Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenang Jasa Kemanusiaan Johannes van der Steur: Komunitas Kota Toea Magelang Bebersih Kompleks Makam Kerkhof, Begini Kisahnya...

Naila Nihayah • Senin, 1 Juli 2024 | 22:14 WIB

 

TERAWAT: Makam seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda bernama Johannes van der Steur masih terawat. Begitupula dengan makam lain.
TERAWAT: Makam seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda bernama Johannes van der Steur masih terawat. Begitupula dengan makam lain.

MAGELANG - Saban awal Juli, Komunitas Kota Toea Magelang bebersih kompleks Makam Kerkhof di Jalan Ikhlas, Kelurahan Magersari, Kota Magelang.

Kegiatan tersebut untuk menyambut peringatan hari lahir seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda, bernama Johannes van der Steur yang jatuh pada 10 Juli mendatang.

Nama van der Steur hingga kini masih melekat kuat di ingatan masyarakat.

Tak ayal, makam itu masih mendapat perhatian dan selalu terawat meski usianya hampir menyentuh satu abad.

Selain van der Steur, ada puluhan makam lain, seperti istri van der Steur hingga anak asuhnya.

Johannes van der Steur merupakan pejuang kemanusiaan yang lahir pada 10 Juli 1865 di Rozenprieel, Haarlem, Belanda.

Dan meninggal pada 16 September 1945 di Kota Magelang. Van der Steur hidup serba pas-pasan bersama sepuluh saudaranya.

Van der Steur dibesarkan oleh keluarga Kristen Protestan yang sangat taat. Ketaatan itulah yang membuat nilai-nilai protestanisme dan kemanusiaan tumbuh dalam diri van der Steur.

"Ia akhirnya menjadi penyebar agama Kristen Protestan yang berasal dari Belanda," sebut Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana saat ditemui, Senin (1/7/2024).

Dalam perjalanannya menyebarkan agama tersebut, van der Steur lantas bertemu dengan seorang serdadu yang baru saja kembali dari Hindia Timur di Kota Harderwijk.

Serdadu itu banyak bercerita kepada van der Steur ihwal pengalamannya di kota tersebut.

Alih-alih mendengar kabar bahagia, van der Steur justru mendapat narasi tragis tentang nasib para serdadu.

Mendengar kisah tersebut, van der Steur bertekad untuk berkunjung ke Kota Harderwijk.

Dia pun berlayar ke Hindia dari Kota Ijmuiden pada 10 September 1892. Di tahun yang sama, van der Steur tiba di Magelang.

Dia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa misi untuk membimbing para serdadu agar mengenal dan kembali ke jalan Tuhan.

Van der Steur mengawali misinya dengan bekerja sebagai pembantu di dalam tangsi militer.

Ia bertugas membagikan kertas yang berisi renungan nukilan ayat-ayat injil di atas tempat tidur. 

"Suatu ketika, dia menemui tentara yang mabuk dan mengatakan bahwa di luar ada anak-anak telantar yang bapaknya sudah meninggal," katanya.

Bagus menjelaskan, rupaya terjadi praktik pergudikan yang kala itu marak terjadi di Hindia-Belanda. 

Van der Steur pun pernah berkirim surat kepada Directur Onderwijes, Eredienst, en Nijverheid (Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri).

Suratnya berisi desakan untuk melangsungkan pernikahan sebanyak mungkin agar praktik pergudikan bisa ditekan.

Suatu ketika, van der Steur melakukan kunjungan di satu kampung. Banyak anak-anak dari berbagai latar belakang terlantar karena orang tua maupun keluarganya meninggal akibat perang.

Lantas, ia tergerak untuk membantu dengan mengasuh empat anak telantar di sebuah rumah di daerah Menowo.

Anak asuhnya semakin banyak hingga akhirnya van der Steur menjual seluruh aset berharga di kampung halamannya. Kemudian, ia kembali lagi ke Magelang bersama istrinya.

Dia pun membeli lahan di Kampung Meteseh untuk mendirikan panti asuhan yang bisa menampung anak-anak telantar pada 1892.

Bagus menyebut, anak asuhnya lambat laun semakin banyak hingga ribuan. Mereka berasal dari berbagai suku dan daerah. Seperti Maluku, Ambon, Manado, dan sebagainya.

"Anak-anak itu bukan hanya sekadar diasuh. Tapi juga diberi keterampilan. Kalau perempuan, bisa menjahit, memasak, dan lainnya," ujarnya.

Adapun anak laki-laki, diajarkan soal pertukangan, membuat sepatu, hingga disekolahkan dengan baik.

Harapan van der Steur, anak-anak yang kurang beruntung itu bisa memiliki derajat dan mengenyam pendidikan yang layak. Dan muaranya menjadi anak yang mandiri.

Namun, saat Jepang datang ke Magelang, van der Steur dibawa menuju Cimahi pada 1942. Hal itu membawa dampak yang luar biasa karena kondisi panti asuhan menjadi tidak keruan hingga 1945.

Ketika Jepang menyerah, van der Steur kembali ke Magelang dan dinyatakan meninggal pada 16 September 1945.

Bagus menambahkan, semasa hidupnya, van der Steur dan sang istri memang tidak memiliki anak. Bagi mereka, ribuan anak-anak asuh itu merupakan anak kandungnya.

"Anak-anak asuhnya maupun generasi kedua dan ketiga, beberapa kali berziarah ke makam van der Steur, baik yang tinggal di Belanda maupun Indonesia," jelasnya.

Dulunya, kompleks Makam Kerkhof tersebut sangat tidak terawat dengan rumput ilalang yang menjulang tinggi. Bagus menceritakan, ada keluarga dari van der Steur yang mengirim pesan lewat Facebook untuk merawat makam tersebut. Dia pun menyanggupinya.

Tahun pertama, kata dia, bisa dikatakan berat karena proses pembersihan kompleks makam itu belum menampakkan hasil yang signifikan. Lantas, tahun kedua maupun ketiga, sudah mulai bersih.

"Sejak 2018, kami membersihkan kompleks makam. Tepatnya menjelang 10 Juli," terangnya.

Menurutnya, bebersih makam ini memang menjadi agenda rutin Komunitas Kota Toea Magelang sebagai bagian dari rangkaian festival Johannes van der Steur. Ada sejumlah kegiatan yang dilakulan, mulai dari pameran foto dan arsip, bedah sejarah, hingga jelajah kota.

"Kami bukan orang yang terlalu mengagungkan Belanda. Tapi, nilai-nilai luhur di balik cerita sejarah dari tokoh kemanusiaan Johannes van der Steur karena pesannya relevan sepanjang masa," tambahnya. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#komunitas kota toea magelang #Magelang #Kota Harderwijk #Makam Kerkhof #bebersih #penyebar agama #Johannes van der Steur #Kota Magelang