Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mulai Musim Tanam Kedua Petani Purworejo Diminta Waspadai Wereng Batang Cokelat

Jihan Aron Vahera • Rabu, 29 Mei 2024 | 02:29 WIB
KERING KERONTANG: Penggembala membawa ternak kambingnya mencari makan di tengah sawah yang sudah gersang di salah satu wilayah di Kabupaten Purworejo, kemarin (4/10). 
KERING KERONTANG: Penggembala membawa ternak kambingnya mencari makan di tengah sawah yang sudah gersang di salah satu wilayah di Kabupaten Purworejo, kemarin (4/10). 

RADAR JOGJA - Petani di Kabupaten Purworejo diminta untuk melakukan pengamatan sedini mungkin terhadap organisme pengganggu tanaman (OTP) di musim tanam kedua (MT2) ini. Utamanya, pada OTP jenis wereng batang coklat (WBC).

Subkor Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Purworejo Muslih menyampaikan, berdasarkan laporan dari masing-masing kecamatan, saat ini serangan wereng di Kabupaten Purworejo sudah mereda.

Disebutkan, di MT2 ini diperkirakan tidak begitu banyak serangan wereng. Namun, dia meminta agar petani tetap harus waspada.

"Di MT2 ini kami melakukan antisipasi terhadap serangan wereng dengan melakukan gerakan pengendalian di masing-masing kelompok tani," ujarnya Selasa (28/5).

Saat ini, sebagian petani di Kabupaten Purworejo sudah ada yang mulai menanam padi bahkan ada yang sudah berumur 3 minggu sampai 1 bulan.

"Kami minta petani agar melakukan pengamatan sedini mungkin agar tidak terlambat. Karena jika populasinya sudah banyak akan sulit dikendalikan. Petani harus aktif," ungkapnya.

Dia mengatakan, para petani harus rutin mengamati. Jika ditemukan satu, dua ekor atau lebih wereng untuk segera melapor ke penyuluh pertanian atau pengendali OTP (POTP) setempat. Nantinya, POPT akan melihat ke lapangan dan memberikan rekomendasi pengendalian.

"Pestisida itu langkah akhir. Kami merekomendasikan pestisida hayati dan nabati atau pestisida yang direkomendasikan oleh Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Temanggung," sambungnya.

Untuk pestisida hayati, kata Muslih, sejumlah kelompok tani di Kabupaten Purworejo telah dilakukan pembinaan dari Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Temanggung dan DKPP Purworejo.

Bahkan, sudah ada yang menghasilkan produk seperti di Desa Candingasinan (Kecamatan Banyuurip), Doplang (Kecamatan Purworejo), Desa Sumberejo (Kecamatan Purwodadi), dan seterusnya.

Sejumlah upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo untuk pengendalian wereng. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hasil panen petani agar tidak merosot.

Bupati Purworejo juga telah membuat surat edaran yang ditujukan kepada para camat agar mengantisipasi pengendalian wereng batang coklat.

"Yang sudah banyak menggunakan DD untuk pengendalian wereng adalah desa-desa di Kecamatan Purwodadi," imbuh dia.

Diketahui, di MT1 kemarin, hama wereng merata menyerang di seluruh kecamatan di Kabupaten Purworejo. Sebelumnya, Kepala DKPP Purworejo menyebutkan, serangan wereng sangat berpengaruh pada penurunan hasil panen.

"Hasil panen di MT1 agak turun karena hujan dan serangan OPT. Rata-rata hasil panen per hektare 5,6 ton di MT1 kemarin. Biasanya rata-rata 6,8 ton per hektare dengan luas sawah di Kabupaten 29.757 hektare," sebutnya. (han)

 

Editor : Heru Pratomo
#organisme pengganggu tanaman #musim tanam #wereng batang cokelat #OTP #Purworejo