Mereka hendak mengikuti rangkaian gerebek kupat atau ketupat.
Di dalam kupat, ada sejumlah uang pecahan. Mulai dari Rp 1 ribu, Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, hingga Rp 100 ribu.
Kegiatan tersebut diawali dengan kirab yang terdiri dari perangkat desa setempat dan berbagai kesenian daerah.
Serta mengarak gunungan kupat dari masjid setempat menuju lokasi gerebek.
Setelah itu, para warga antusias berebut kupat. Bahkan, kurang dari lima menit, kupat itu ludes.
Kepala Dusun Dawung 1 Wisik mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi rutin saban Syawal.
Sebagai bentuk syukur dan saling memaafkan yang dikemas dalam kegiatan gerebek kupat.
"Ini wujud syukur karena telah berpuasa satu bulan penuh," ungkapnya, Minggu (14/4/2024).
Dia menyebut, ada sekitar 2.500 kupat yang digerebek warga dengan tinggi gunungan mencapai 3,5 meter.
Pembuatan kupat itu merupakan kolaborasi antara warga Dusun Dawung 1 dan 2. Para panitia lantas membagikannya kepada warga.
Wisik menambahkan, masing-masing rumah diberi lima hingga sepuluh kupat untuk diisi uang seikhlasnya.
"Isinya uang. Ngisinya pun sukarela. Ada yang Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, bahkan ada yang Rp 100 ribu," paparnya.
Kupat itu diisi uang sebagai ungkapan syukur warga sekaligus pengharapan agar bulan Syawal mendapat rezeki yang melimpah.
"Boleh dikatakan itu (gerebek kupat) sebagai wujud syukur. Warga saling peduli untuk mengisinya," imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Dusun Dawung 2 Wahyudiono berharap, dengan adanya gerebek kupat ini dapat menjaga kerukunan antarwarga.
Serta terjalin silaturahmi yang baik dan saling bersinergi.
Selain kegiatan inti, yakni gerebek kupat, warga juga menampilkan antraksi kesenian di masing-masing dusun.
"Harapannya bisa mencerminkan kebahagiaan masing-masing warga setelah berpuasa satu bulan penuh," tuturnya.
Editor : Bahana.