Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPBD Tanam Vetiver di Tujuh Daerah Rawan Longsor

Naila Nihayah • Rabu, 27 Maret 2024 | 15:00 WIB

GOTONG ROYONG: Personel BPBD Kabupaten Magelang saat menanam rumput vetiver di tebing bekas longsoran Dusun Gejiwan, Desa Krasak, beberapa waktu lalu.
GOTONG ROYONG: Personel BPBD Kabupaten Magelang saat menanam rumput vetiver di tebing bekas longsoran Dusun Gejiwan, Desa Krasak, beberapa waktu lalu.
 

RADAR JOGJA – Hingga Maret, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat ada 102 bencana tanah longsor yang melanda sejumlah wilayahnya. Melihat kondisi tersebut, BPBD mulai mengambil langkah rehabilitasi lahan pascakejadian tersebut. Termasuk dengan menanam vetiver.


Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Magelang Teguh Hardiyono menuturkan, tahun ini, ada tujuh lokasi daerah rawan longsor dan bekas longsoran yang bakal ditanami vetiver. Antara lain Dusun Gejiwan Desa Krasak, Dusun Pandansari Desa Kalisalak, dan Dusun Kembang I Desa Jebengsari, Salaman.


Kemudian di Dusun Tlahapjurang Desa Lesanpuro dan Dusun Sabrang Desa Wuwuharjo, Kajoran. Selanjutnya di Dusun Miriombo Desa Giripurno, Borobudur dan Dusun Drepowangsan Desa Tejosari, Ngablak. Lokasi tersebut dipilih atas beberapa pertimbangan dan kajian yang sudah dilakukan.


Satu di antaranya seperti kecukupan sinar matahari di lokasi yang akan ditanam vetiver. Sebab, tanaman itu membutuhkan akses sinar matahari secara langsung.

“Kebetulan lokasi-lokasi yang kami tanami berada di lokasi yang cukup ideal sinar mataharinya,” paparnya saat dihubungi, Selasa (26/3).


Selain itu, lokasi tersebut sudah beberapa kali terjadi longsor dan ada hunian yang terancam. Dalam penanganan bencana prioritas utama adalah menyalamatkan jiwa manusia.

Namun, upaya penanggulangan bencana dengan sistem penanaman vetiver bukan cara utama untuk mencegah tanah longsor. Menurutnya, harus ada pendekatan lain secara simultan yang harus dilakukan.

“Contoh bagaimana mengatur tata kelola air di sekitar. Karena yang namanya bencana longsor itu kalau kita amati yang paling dominan karena faktor air. Itu bisa kita cek,” ujar Teguh.


Sistem penanaman vetiver, lanjut Teguh, tergolong praktis, tidak mahal, dan mudah dipelihara. Selain itu, vetiver cukup efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan.

Kemudian, vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya. Keistimewaannya sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang unik.


Dia menambahkan, tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5,2 meter. Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 sentimeter yang sangat keras. (aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#vetiver #Tanah Longsor #BPBD Kabupaten Magelang