Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kepala BPN Purworejo Andri Kristanto Awali Karier sebagai Dosen, 38 Judul Buku Sudah Diterbitkan

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 22 Maret 2024 | 14:30 WIB
SUKA MENULIS: Kepala Kantor BPN Purworejo Andri Kristanto yang latar belakang pendidikannya dari teknik informatika.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA
SUKA MENULIS: Kepala Kantor BPN Purworejo Andri Kristanto yang latar belakang pendidikannya dari teknik informatika.JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - Tak banyak yang tahu Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Purworejo Andri Kristanto mengawali kariernya sebagai dosen. Bahkan perjalanan pekerjaannya hingga ia menjadi orang nomor satu di BPN Purworejo, juga tidak semulus yang dibayangkan.

JIHAN ARON VAHERA, Purworejo

Kisahnya berawal ketika dia lulus kuliah dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta pada 1998 lalu. Selepas menyelesaikan studi S1, pria kelahiran Blora, 31 Agustus 1975 ini mencoba peruntungan menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS).


Banyak instansi seperti Kementerian Dalam Negeri hingga Kementerian Keuangan dia coba, tetapi belum berhasil. Tak patah arang, pada akhir 2007 dia kembali ikut seleksi dan 31 Desember 2007 dinyatakan lolos.


"Di awal 2008, saya mulai bekerja di BPN di Jakarta. Waktu itu belum digabungkan dengan Agraria dan Tata Ruang (ATR)," ungkap Andri, sapaannya, saat ditemui Radar Jogja Rabu (13/3) lalu.


Awal penempatan, kata Andri, dia di Inspektorat Utama BPN yang kini menjadi Inspektorat Jenderal Kementerian ATR/BPN. "Mulai 2008-2010 menjadi staf dan di 2011 jadi auditor.

Dari auditor pratama kemudian auditor muda, sampai Juli 2021 posisi terakhir di auditor madya Inspektorat Jenderal Kementerian ATR/BPN," bebernya.


Akhirnya, pada 3 Agustus 2021 dia dilantik menjadi Kepala Kantor BPN Purworejo. Yakni diberikan amanah untuk menyelesaikan permasalahan pengadaan tanah proyek Bendungan Bener di Purworejo.


Seperti diketahui, banyak polemik yang terjadi pada proses pengadaan tanah proyek itu. Seperti penolakan pembangunan proyek dari warga, warga enggan menerima uang ganti rugi (UGR), dan sebagainya.

Namun berkat strategi 4K (komunikasi, koordinasi, kolaborasi, dan komitmen), permasalahan-permasalahan itu dapat diurai dan diselesaikan.


Buktinya, proses pengadaan tanah proyek itu kini berhasil digenggamnya. Awal masuk BPN Purworejo, pengadaan tanah baru sekitar 30 persen. "September sudah berprogres menjadi 38 persen. Di awal 2022 sudah 75 persen. Sekarang 99,84 persen UGR sudah diterima warga terdampak," jelasnya.


Sementara sisanya sudah diselesaikan dengan upaya konsinyasi. Artinya, tugas BPN Purworejo sudah selesai atas pengadaan tanah tersebut. Terkait penyerahan dokumen hasil pengadaan tanah juga sudah diserahkan ke BBWSSO (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak).


Yakni, ada tujuh desa terdampak di Kabupaten Purworejo yang dokumennya sudah diserahkan. Tinggal dua desa yakni Desa Guntur dan Wadas yang belum diserahkan.

"Desa Guntur kami jadwalkan 28 Maret 2024 dan Wadas penyerahannya maksimal 20 April 2024," sebut pria asal Blora itu.


Diungkapkan, ketika dokumen hasil pengadaan tanah itu diserahkan semua, pekerjaan BPN Purworejo telah selesai untuk pengadaan tanah megaproyek tersebut. Tentu itu menjadi sebuah pencapaian sendiri untuknya sebab bukan pekerjaan yang mudah.


Dari keberhasilannya dalam pengadaan tanah itu, siapa sangka Andri bukan berlatar pendidikan hukum, pertanahan, ataupun yang lain.

Melainkan dari background S1 teknik informatika (hardware). Selepas kuliah, dia mengajar menjadi dosen sejak 2000-2007 di Universitas Widya Dharma, Klaten.

Pernah juga mengajar di Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta selama tiga semester sekitar 2010 saat sudah bekerja di BPN.


Kemudian studi S2 dilanjutkan pada 2006-2007 dengan jurusan yang sama yaitu teknik informatika (software) di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). "Studi S2 saya selesaikan dalam waktu 11 bulan dengan biaya sendiri," ucapnya.


Dia mengaku, perjuangannya selama kuliah juga tidak mudah. Bahkan Andri menceritakan saat kuliah dia tidak memiliki komputer. Untuk menyelesaikan tugas saja harus ke warnet atau ke rumah teman. "Untuk kuliah S2 saya juga menjual copyright buku-buku karya saya," ceritanya.


Mengingat dia juga memiliki hobi menulis hingga sekarang. Selama menjadi dosen, sudah banyak buku yang dia hasilkan. Setidaknya ada 38 judul yang sudah diterbitkan.

Sebagian besar tentang teknologi informasi seperti buku Perancang Sistem Informasi dan Aplikasinya, Rekayasa Perangkat Lunak, Kecerdasan Buatan, Master Hacker vs Cracker, dan sebagainya.


Buku-buku karyanya itu hingga saat ini masih dijadikan referensi oleh mahasiswa. "Setiap waktu senggang saya menyempatkan dan memanfaatkannya untuk menulis.

Rencana saya juga ingin membuat tulisan terkait proses pengadaan tanah di Wadas atau Bendungan Bener. Masih dapat dua bab," ungkapnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#kementerian keuangan #UKDW #ATR #BPN Purworejo