RADAR JOGJA - Masjid Jami Baitul Muttaqin ini memiliki cerita yang tidak biasa. Bagaimana tidak, lazimnya sebuah bangunan dapat diketahui kapan pembangunannya. Tapi, berbeda dengan masjid yang berada di Dusun Sengon, Trasan, Bandongan.
Sebab, tidak ada satupun yang mengetahui persis kapan masjid tersebut dibangun. Sehingga warga setempat lebih memgenalnya dengan masjid Tiban yang berarti 'jatuh secara tiba-tiba' lantaran tidak diketahui awal pembangunannya.
Takmir Masjid Jami Baitul Muttaqin Tajudin mengutarakan, berdasarkan cerita yang beredar luas, dahulu lokasi masjid berbeda dengan saat ini. Tetapi, di belakang masjid.
"Selang satu malam, tiba-tiba bangunan masjid pindah di sini," ujarnya saat ditemui, Selasa (12/3).
Baca Juga: Masjid Syuhada Jogja Sediakan Takjil Dengan Varian Menu Daerah di Indonesia
Lantaran sesepuh dusun banyak yang sudah meninggal, warga kesulitan untuk mengumpulkan bukti awal mula berdirinya masjid tersebut. Apalagi tidak ada arsip atau dokumen tertentu berkaitan dengan tanah maupun bangunannya.
Karena itulah, warga secara turun termurun menyebut masjid itu sebagai masjid tiban. Bangunan utama masjid itu masih orisinal. Baik genting maupun saka atau tiang penyangga masjid.
Di dalamnya terdapat 16 saka dengan 4 saka utama. Saka maupun penyangga lain berasal dari kayu jati.
Dulunya, kata Tajudin, di depan bangunan masjid ada kolam dan jembatan. Sementara untuk serambi masjid, baru dibangun sekitar 1980-an lantaran jemaahnya semakin bertambah.
"Saya pemugarannya tidak tahu persis tahun berapa. Sekitar 1981 masih utuh (hanya bangunan utama). Terus merantau, pas balik ke sini 2020, sudah seperti ini," katanya.
Selain bangunan utama yang masih orisinal, dia menambahkan, ada peninggalan lain berupa beduk, kentongan, dan lesung. Dulunya, beduk dan lesung masih sering digunakan sebagai penanda dimulainya salat.
Namun, kini sudah tidak lagi digunakan dan disimpan di dalam almari. "Dulu katanya, kalau ada orang ziarah di makam belakang masjid, diambilin (kulit beduk dan lesung). Makanya dikasih lemari biar awet," bebernya.
Sedangkan di belakang masjid, terdapat para tokoh agama atau sesepuh yang pernah menjadi imam di masjid tersebut. Makam itu pun tampak terawat dengan baik.
Suasana berbeda akan tampak di masjid itu pada malam 21 Ramadan atau yang biasa disebut malam selikuran. Banyak warga yang datang dari berbagai daerah dan tumplak di masjid. Tujuannya untuk beriktikaf.
Bahkan, di sepanjang jalan menuju masjid, ada berbagai macam pedagang. Mulai dari pakaian, makanan, pernak-pernik, permainan anak, dan lain sebagainya. "Yang jualan banyak. Mereka mempunyai keyakinan untuk ngalap berkah dari masjid Tiban ini," ungkapnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo