Kini hanya dibuka mulai sore hari. Mengingat saat pagi dan siang hari, lapak dagangan mereka sepi pembeli. Aturan tersebut berlaku sesuai kesepakatan bersama.
Berdasarkan pantauan, kursi di TVJ ditata terbalik di atas meja. Gerobak mereka juga diletakkan di sudut.
Hanya sedikit kursi yang diturunkan dan diletakkan semestinya. Untuk memfasilitasi para pejalan kaki atau pengunjung yang hendak beristirahat sejenak.
Salah satu pengurus TVJ Alun-alun Magelang Agung Prawoto menuturkan, selama Ramadhan ini, ada aturan baru terkait jam operasional para pedagang di alun-alun.
"Bukanya mulai pukul 15.00 sampai malam," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (12/3/2024).
Saat hari biasa, kata dia, ada dua sif yang diberlakukan. Sif pertama pukul 04.00 hingga 16.00 dan sif kedua pukul 16.00 sampai 04.00.
Namun, kenyataan di lapangan terkadang berbeda. Mereka biasa membuka lapaknya pukul 08.00 untuk sif pertama dan sif kedua akan tutup saat dagangannya habis.
Untuk Ramadhan ini, para pedagang dari kedua sif tersebut memberlakukan sistem dua hari berdagang dan dua hari libur. Agar seluruh pedagang bisa tetap berjualan.
"Ketika kami tawarkan, pedagang mintanya dua hari libur, dua hari jualan. Itu (jam operasional) berlaku mulai hari ini," katanya.
Sedangkan di TVJ Alun-alun Kota Magelang ada lebih dari 120 pedagang. Jadwal tersebut, lanjut dia, terus dilakukan secara bergantian dan sudah berjalan selama empat tahun ini.
Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang telah membebaskan jam operasional selama Ramadhan ini.
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Mikro Kota Magelang Syaifullah menambahkan, berdasarkan rapat internal anggota TVJ beberapa waktu lalu, mereka sepakat berjualan dengan pola seperti tahun sebelumnya. "Dua hari jualan, dua hari libur," ungkapnya.
Sebetulnya, pemkot memberi kebebasan para pedagang untuk membuka lapaknya selama Ramadhan ini.
Bahkan, 120 pedagang di TVJ diperbolehkan berjualan dalam satu waktu. Mulai pagi sampai malam. Hanya saja, pola tersebut dirasa kurang praktis dan kurang optimal.
Apalagi saat ini masih musim hujan. Ketika selter hanya bisa menampung 60 pedagang, praktis pedagang lainnya harus menyiapkan tenda.
"Pertimbangannya ribet. Ditambah musim hujan dan mereka harus pasang tenda. Sehingga mereka hanya pilih dua hari sekali berjualan," katanya.
Editor : Bahana.