RADAR JOGJA - Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) kembali menggelar Pabbajja Samanera Sementara di Candi Borobudur. Kegiatan pelatihan sementara bagi calon biksu ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua panitia Pabbajja Samanera Sementara 2023 Fatmawati mengutarakan, Kegiatan ini diawali dengan mencukur rambut para peserta di Taman Aksobya, kompleks Candi Borobudur. Tidak hanya mencukur rambut, tapi juga alis dan kumis. Rambut yang sudah dipotong itu, diletakkan di atas daun teratai dan bisa dibawa pulang oleh keluarga.
Pelatihan sementara bagi calon biksu ini diselenggarakan untuk menjalankan 75 sila (vinaya) ajaran Buddha. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para calon samanera. Mulai dari penanaman pohon, cukur rambut, hingga prosesi thudong.
Penanaman pohon, kata dia, dilakukan sebagai upaya turut melestikan alam di kompleks Candi Borobudur. Untuk pemotongan rambut mengandung makna setiap calon samanera harus melepaskan keduniawian. Dengan melepaskan makhota yang paling berharga di kepalanya.
"Yaitu rambut, alis, dan kumis," ujarnya di Kompleks Candi Borobudur Minggu sore (17/12).
Kegiatan ini merupakan bentuk pelatihan pembentukan karakter di internal umat Buddha. Yang berguna untuk memajukan moral dan spiritual. Harapannya, para peserta mampu memberikan inspirasi, teladan moral, dan kontribusi positif lainnya.
Fatmawati menambahkan, peserta termuda berusia delapan tahun. Meski saat pendaftaran, usia minimal adalah 12 tahun. Namun, dia dianggap layak mengikuti Pabbajja Samanera Sementara ini karena lolos serangkaian tes dan bisa mandiri.
“Sementara usia tertua adalah 101 tahun dari Lampung,” katanya.
Selama mengikuti pelatihan ini, setiap calon samanera hanya memiliki dua jubah atau dua lembar kain yang dililitkan di tubuhnya sebagai pengganti baju. Ketika kotor, mereka bisa mencucinya dan memakai jubah lainnya. Begitu pula di hari-hari berikutnya.
Sementara itu, peserta tertua bernama Yasani mengaku, sudah pasrah dengan takdir yang bakal menjemputnya nanti. Sehingga dia memiliki mimpi untuk datang ke Candi Borobudur sebelum meninggal. "Ibaratnya saya siap meninggal setelah dari sini," papar kakek 101 tahun itu. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo