Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

KREATIF !!! Minim Lahan Pertanian, Kota Magelang Bisa Kembangkan Urban Farming

Naila Nihayah • Selasa, 12 Desember 2023 | 21:51 WIB
BERI APRESIASI: BPS Kota Magelang mengapresiasi unit kerja, instansi, dan masyarakat Kota Magelang yang ambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan ST2023. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERI APRESIASI: BPS Kota Magelang mengapresiasi unit kerja, instansi, dan masyarakat Kota Magelang yang ambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan ST2023. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

MAGELANG - Dengan luas wilayah yang terbilang kecil, warga Kota Magelang bisa mengembangkan urban farming.

Bahkan, potensinya cukup besar dengan memanfaatkan lahan terbatas ataupun pekarangan rumah.

Hanya saja, usaha pertanian perorangan (UTP) urban farming di Kota Magelang masih sedikit.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang Aluisius Abrianta menjelaskan, UTP urban farming merupakan UTP di daerah perkotaan yang mengusahakan pertanian di lahan terbatas.

Dengan sebagian besar media tanamnya tidak di permukaan tanah. Melainkan menggunakan sistem hidroponik, aquaponic, vertikultur, dan lainnya.

Dengan kata lain, urban farming berkaitan erat dengan penguasaan teknologi dan usia. Di Kota Magelang, potensi untuk mengembangkan urban farming dirasa cukup tinggi.

"Dari catatan, kita (Kota Magelang) masih sedikit yang melakukan urban farming," ujarnya, Selasa (12/12/2023).

Aluisius menyebut, sebetulnya ada sekitar 50 persen petani yang sudah menguasai teknologi pertanian.

Namun, untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki, belum seluruhnya dilakukan warga.

Padahal, potensinya cukup besar. Mengingat lahan di Kota Magelang sangat terbatas.

Lebih-lebih, lahan pertanian di Kota Magelang justru semakin berkurang.

Digantikan dengan gedung ataupun perumahan. Tapi, Aluisius belum menyebut secara pasti luasan lahan pertanian di wilayahnya.

"Fokus kami adalah pengusaha yang mengusahakan pertanian di daerah lain. Petaninya ada di Kota Magelang, tapi lahan pertaniannya bisa di kabupaten atau daerah lain," terangnya.

Berdasarkan sebaran UTP di Kota Magelang, ada 33 unit UTP urban farming.

Terbanyak ada di Kecamatan Magelang Tengah, yakni 27 unit atau mencakup 81,85 persen dari total urban farming di Kota Magelang.

Sedangkan UTP urban farming paling sedikit ada di Kecamatan Magelang Tengah, yakni satu unit atau 3,03 persen.

Padahal, lanjut dia, jumlah UTP 2023 di Kota Magelang sebanyak 2.418 unit. Naik 90,39 persen dibanding tahun 2013yang berjumlah 1.270 unit.

Selain itu, jumlah usaha pertanian hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Yakni ada sebanyak 2.488 unit atau naik 94,98 persen dibanding 2013 yang sebanyak 1.276 unit.

Kemudian, jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum (UPB) 2023 sebanyak 2 unit. Atau naik 100 persen dibanding 2013 yang hanya berjumlah 1 unit. Lalu, jumlah usaha pertanian lainnya (UTL) 2023 sebanyak 68 unit. Naik 1.260 persen dari tahun 2013 yang hanya 5 unit.

UTP mendominasi usaha pertanian di semua subsektor dan terbanyak terdapat di subsektor peternakan, yakni mencapai 1.567 unit usaha.

Sedangkan komoditas yang paling banyak diusahakan adalah ayam kampung biasa yang mencapai 22,86 persen. Disusul oleh unggas nonpangan sebesar 19,35 persen.

UPB terdapat di subsektor hortikultura, perkebunan, dan kehutanan. Dengan masing-masing berjumlah 1 unit usaha.

Selanjutnya, UTL terbanyak terdapat di subsektor hortikultura, yakni mencapai 31 unit usaha.

"Kalau dari sisi jumlah secara absolut, kita memang paling rendah nomor 2 di Jateng, setelah Surakarta. Tapi, dari sisi pertumbuhan, kita paling tinggi di Jateng," jelasnya.

Sekretaris Daerah Kota Magelang Hamzah Kholifi mengutarakan, sensus pertanian ini berperan penting untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran. Khususnya berkaitan dengan upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Jika dilihat dari hasil ST2023 tahap I, terdapat temuan yang menggembirakan. Mulai dari kenaikan jumlah RUTP, perusahaan pertanian berbadan hukum, dan usaha pertanian lainnya.

"Meningkatnya usaha pertanian diharapkan berkontribusi positif pada perekonomian Indonesia," paparnya.

Melihat catatan BPS pada 2022, lanjut dia, kontribusi sektor pertanian mencapai 12,4 persen terhadap produk domestik bruti (PDB) berdasarkan harga berlaku (ADHB).

Selain berkontribusi pada PDB, sektor pertanian juga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Yakni sejumlah 27 persen.

Di Kota Magelang, lahan pertanian memang terbilang terbatas. Kendati begitu, bukan berarti sektor pertanian tidak berpotensial untuk berkontribusi lebih terhadap perekonomian daerah.

Tanaman anggrek, buah-buahan, dan produk peternakan seperti telur, daging, serta susu sapi merupakan komoditas pertanian unggulan Kota Magelang yang bisa ditingkatkan.

Hamzah berharap, ST2023 dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai pijakan dalam memetakan potensi. Serta menganalisis masalah dan menemukan solusi terbaik bagi pengembangan sektor pertanian. (aya/mel)

Baca Juga: Kominfo : Panduan Etik Artificial Intelligence Sangat Penting

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Aquaponic #urban farming #Badan Pusat Statistik (BPS) #Vertikultur #Sensus pertanian #Hidroponik #usaha pertanian perorangan #Petani #Kota Magelang