MUNGKID - Kebakaran hutan di Taman Nasional Gunung Merbabu berimbas pada ketersediaan air bersih di Kecamatan Pakis dan Ngablak. Dua desa di Pakis dan satu desa di Ngablak.
Itu lantaran saluran pipa air tersebut ikut terbakar dan saat ini kondisinya putus. Sehingga tidak bisa mengaliri hingga ke rumah-rumah warga. Mereka berharap, segera mendapatkan droping air bersih.
Kepala Resort Wonolelo Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Suparmin menuturkan, kebakaran itu membuat pipa saluran air ikut terbakar. Sehingga mengancam ketersediaan air bersih di beberapa wilayah tersebut.
Hanya saja, dia belum mengetahui secara pasti panjang saluran pipa yang terbakar termasuk dampak lainnya di beberapa desa.
Dia mengatakan, sebelum terbakar, warga memang berencana membuat sekat di dekat jalur pipa. “Ternyata kebakaran itu menyebar hingga Kabupaten Magelang dan membuat pipa terbakar,” ujarnya saat ditemui di Wisata Alam Grenden, Senin (30/10).
Meski diprediksi sudah tidak ada titik api, namun petugas belum mendata secara keseluruhan dampak dari kebakaran tersebut. Sebab, petugas masih fokus mencari tunggak dan potensi munculnya titik-titik api lainnya.
“Setelah itu, kami akan lakukan pendatan. Berapa dusun yang kena dampak. Nanti kerusakan pipa ada berapa,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Desa Kenalan, Kecamatan Pakis Joko Santoso mengatakan, dampak kebakaran itu membuat satu desa di wilayahnya mengalami kekurangan air. Khususnya, Dusun Kewiran, Kenalan, Kedakan, dan Kesingan. Lantaran pipa saluran air bersih terbakar.
Dia bersama warga lainnya sudah melakukan penyisiran ke lokasi. Adapun kerugian pipa sebanyak 1.200 batang. “Sementara wilayah Desa Kenalan mengandalkan batuan air bersih. Kemarin (Minggu, Red) sudah ada dropping air dari BPBD Kabupaten Magelang,” kata dia.
Sementara itu, warga Dusun Grenden, Parju, mengatakan, kebakaran hutan di Taman Nasional Gunung Merbabu mengakibatkan saluran pipa air bersih terputus.
Baca Juga: Warga Drojogan Berebut Ojeg 2,5 Kuintal, Bupati Minta Pedagang Lebih Kreatif dan Inovatif
Hal itu membuat 105 kepala keluarga (KK) di Grenden terancam kekurangan air bersih. Sebab, mereka mengandalkan sumber mata air dari lereng Merbabu.
Beruntung, kata dia, sejak terputus pada Minggu (29/10), warga setempat masih memiliki persediaan air bersih. Meskipun masih tersisa sedikit.
"Itu dari pamsimas (program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat). Sementara ini memang nggak nyala airnya. Harapannya ada dropping air bersih untuk warga terdampak,” bebernya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh warga Dusun Derepan Riyadi. Pipa air bersih dari lereng Merbabu yang disalurkan ke rumah warga, terbakar. Berdasarkan data sementara pada Minggu (29/10), ada sekitar 400 pipa yang terdampak.
“(Dampak kebakaran) sangat terasa sekali. Kalau sumber airnya memang masih hidup, tapi saluran pipanya terbakar,” sebutnya.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Ngablak Triyoga Budi Suryono menyebut, di wilayahnya ada satu desa yang terdampak dari kebakaran Gunung Merbabu. Saluran pipa menuju Desa Genikan tidak mengalir akibat kebakaran.
“Hanya pipa sekitar dua kilometer yang terbakar. Sekarang air menuju Genikan mati total sejak kemarin (Minggu, Red) sore. Droping air bersih sudah ada dari BPBD maupun dari relawan,” ujarnya. (aya)