MUNGKID - Hutan di wilayah Taman Nasional Gunung Merbabu terbakar pada Jumat (27/10) lalu. Tepatnya, di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
Bahkan, kebakaran itu semakin meluas dan merambah ke daerah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang pada Sabtu (28/10). Berdasarkan pantauan dari tim gabungan, sudah tidak ditemukan titik api.
Beruntung, para pendaki berhasil dievakuasi dan saat ini seluruh jalur pendakian ditutup sementara.
Berdasarkan data sementara, luas kebakaran hutan Taman Nasional Gunung Merbabu yakni kurang lebih 848,5 hektare di tiga wilayah.
Di wilayah Kabupaten Semarang seluas kurang lebih 489,8 hektare, Kabupaten Boyolali sekitar 191,7 hektare, dan Kabupaten Magelang ada sekitar 167 hektare.
Plt Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Nurpana Sulaksono menuturkan, secara visual pada Minggu (29/10) malam, sudah tidak terdeteksi adanya asap.
Selain itu, berdasarkan pantauan satelit dan SiPongi juga tidak terdeteksi adanya hotspot.
“Kendati begitu, kami bersama relawan terus memastikan api benar-benar sudah padam,” jelasnya, Senin (30/10).
Dia menyebut, untuk mengantisipasi munculnya api kembali, beberapa petugas disiagakan. Untuk wilayah Kabupaten Magelang, ada beberapa desa yang terdampak.
Yakni, Desa Kenalan, Pogalan, dan Ketundan, Kecamatan Pakis serta Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan. Adapun vegetasi yang terbakar, lanjut dia, berupa sabana ilalang dan bunga edelweis.
Nurpana menegaskan, warga Kabupaten Magelang tidak perlu mengungsi seperti warga Kabupaten Semarang karena dampaknya tidak terlalu signifikan.
Kepulan asap juga tidak sampai ke rumah warga. Namun, seluruh jalur pendakian ditutup sementara.
“Kalau Magelang, aman. (Jalur pendakian ditutup) nanti kita lihat berdasarkan evaluasi. Apalagi di atas (puncak gunung) kondisinya terbakar,” paparnya.
Kepala Taman Nasional Gunung Merbabu Resort Wonolelo Suparmin menjelaskan, pada Minggu (29/10) tim gabungan bersama relawan dan warga setempat berusaha melakukan pemadaman di dua jalur. Yakni, Suwanting di Sawangan, dan Grenden di Pakis.
"Hasil kemarin (Minggu, Red) sore sampai pukul 17.00, teman-teman yang naik sudah turun melaporkan bahwasanya untuk Suwanting sudah tidak ada titik api,” katanya.
Tim gabungan dan relawan melakukan upaya pemadaman api dengan cara manual. Yakni menggunakan kebyok. Sebab, kondisinya tidak memungkinkan untuk membawa tangki air.
Selain itu, tim juga membuat sekat ilaran untuk mengantisipasi agar api tidak semakin menyebar ke titik lain.
Kemudian, membawa sekop apabila ditemukan tunggak sehingga bisa dilakukan penimbunan dengan tanah.
Secara kasat mata, kata dia, memang sudah tidak terlihat api di titik tersebut. Namun, tunggak atau sisa batang kayu dan akar yang masih tertinggal di dalam tanah sesudah ditebang, berpotensi masih menyimpan bara api.
Dengan demikian, tim gabungan berupaya untuk meminimalisasi sisa bara api tersebut. Beruntung, pada Minggu malam sekitar pukul 20.30, wilayah tersebut turun hujan.
Hal itu sedikit banyak dapat membantu proses pemadaman. Baik di wilayah Semarang, Boyolali, dan Magelang. Tapi, sebelum hujan, Dusun Grenden masih terlihat titik api.
"Sesuai rencana, sebelum adanya hujan itu, kami memang akan melakukan pemadaman lewat Grenden. Hari ini, teman-teman relawan naik untuk memastikan kembali, apakah sudah padam atau belum,” sebutnya.
Suparmin menyebut, ada puluhan tim gabungan dan relawan yang naik untuk memastikan api benar-benar padam.
Dia belum mengetahui secara pasti luasan hutan di wilayahnya yang terbakar. Lantaran pihaknya masih fokus memastikan api padam.
“Kami akan mengecek kembali apakah masih ada sisa-sia api. Setelah itu, barulah ada pendataan dan pemetaan,” imbuhnya. (aya)
Editor : Amin Surachmad