RADAR JOGJA - Raut wajah pedagang Pasar Tumenggungan tampak gelisah kala menanti calon pembeli. Cukup lama mereka sabar menunggu kedatangan pembeli. Tapi tetap saja jarang yang menghampiri. Mereka begitu merindukan masa kejayaan berjualan pada satu dekade silam.
M Hafied, Radar Kebumen, Kebumen
Gusar, itulah yang dirasakan para pedagang Pasar Tumenggungan. Setiap hari mereka dihadapkan persoalan sepinya pembeli. Pendapatan mereka terancam. Nilai omzet dari hari ke hari terus merosot.
Pantauan di lokasi, hiruk pikuk aktivitas jual beli tak begitu dirasakan. Terlebih ketika beranjak ke lantai dua pasar. Di sini, tempat para pedagang berjualan barang non kebutuhan pokok. Perputaran uang di lantai dua terlihat cukup stagnan. Tampak hanya segelintir pengunjung yang berkenan menyusuri lorong lantai dua pasar.
Atas kondisi ini para pedagang mengaku tak dapat berbuat banyak. Selain terus berusaha dan berdoa agar tetap bisa mengasapi dapur. "Tambah lama tambah sepi. Lah ini lihat aja, lantai dua bisa buat playon (lari)," kata pedagang, Nur Wiji (17/10).
Persaingan dagang via daring memang menjadi ancaman terbesar para pedagang di Pasar Tumenggungan. Faktor ini yang terus menghantui. Mereka tampak belum siap menghadapi gelombang persaingan dagang di pasar digital.
Nur mengaku, meski Tik-Tok Shop kini secara resmi ditutup pemerintah, kabar tersebut tetap tidak melegakkan kalangan pedagang. "Jualan di Tik-Tok kemarin sudah tidak boleh. Tetap aja tidak pengaruh. Kami paling menjaga langganan, itu pun kadang beli di online," ucapnya.
Pedagang lain, Murtinah mengaku ramainya pasar hanya dirasakan musim tertentu saja. Artinya, dirasakan hanya ketika setiap momentum libur hari besar tiba. Perubahan iklim dagang ini mulai dirasakan pasca rampungnya revitalisasi pasar. "Saya jualan dari anak masih SD, sampai punya cucu. Sekarang kadang laku, kadang tidak. Ya, pasrah aja," bebernya.
Pasar Tumenggungan merupakan pasar terbesar yang berada di jantung Kota Kebumen. Keramaian pasar sudah berbalik 180 derajat. Berderet kios di lantai dasar maupun lantai dua pasar kini tampak tutup. Kondisi ini bukti pasar tradisional semakin ditinggalkan.
Pengelola Pasar Tumenggungan mencatat ada 724 lapak jualan yang dibiarkan kosong atau tak aktif. Lapak ini terdiri dari kios maupun los. Jadi ada status ruko kosong tapi terpakai. Pemilik tetap bayar retribusi. Jumlahnya ratusan. Ada sebagian tutup total sekitar 30an ruko. “Kebanyakan di lantai dua," kata Kepala UPT Pasar Tumenggungan Mulyadi. (din)