RADAR JOGJA - Taman Kyai Langgeng yang kini bertransformasi menjadi TKL Ecopark perlahan mulai dikenal masyarakat luas. Terlebih kondisinya berangsur pulih usai terpuruk selama pandemi. Lantaran ada beberapa transformasi yang dilakukan. Kendati begitu, wisata dengan slogan Exciting Eco-Friendly Park itu, masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan.
Sejak pengelolaannya diserahkan kepada Arif Taat Ujiyanto, TKL Ecopark terus berbenah. Setelah dilantik menjadi Direktur Utama Perusahaan Daerah Obyek Wisata (PDOW) Taman Kyai Langgeng Kota Magelang pada 24 Juni 2021, dia mengencangkan ikat pinggang untuk mengembangkannya. Agar destinasi wisata itu terus eksis.
Sebelum berkecimpung untuk mengelola TKL Ecopark, Taat meniti kariernya berangkat dari seorang guru. Lalu, diangkat menjadi wakil kepala sekolah dan akhirnya menjadi kepala sekolah. Dia juga pernah menjajal peruntungan menjadi seorang Direktur Indonesia Juara Foundation pada 2012-2017.
Kemudian, dia sempat menjadi Direktur Cita Sehat Foundation pada 2017-2021. Lama mengembara di kota metropolitan, dia memutuskan untuk bekerja di daerah yang dekat dengan tanah kelahirannya, Temanggung. Dia pun mencoba lowongan formasi yang kini dijabatnya.
“Saat itu pertanyaannya, apa yang anda akan berikan dan menjadi sebuah solusi untuk Taman Kyai Langgeng yang sedang terpuruk pasca pandemi ini?,” ingatnya beberpa waktu lalu.
Dia pun sudah menyiapkan prosposal yang memuat konsep pengembangan Taman Kyai Langgeng menjadi lebih baik lagi. Konsep besarnya ialah transformasi Taman Kyai Langgeng. Konsep itu, kata dia, menjadi sebuah solusi dan upaya agar wisata itu bangkit dari pandemi. Sebab menurutnya, jika tidak ada inovasi pada sebuah destinasi wisata, lambat laun pasti akan ditinggalkan.
Ada tiga transformasi sekaligus menjadi inovasi baru yang ditawarkan. Pertama, bussiness model transformation. Hal itu dinilai penting karena menjadi salah satu inti dari produk yang ditawarkan kepada pengunjung. Transformasi ini diimplementasikan menjadi lima produk. Yakni botanical park, edupark, playground park, adventure park, dan culiner park.
Transformsi kedua yakni brand image transformation. Satu di antaranya dengan me-rebranding nama yang semula Taman Kyai Langgeng, menjadi TKL Ecopark. Yang kini menjadi wajah baru dan semangat baru untuk terus berkembang. Logonya berupa tiga daun bersusun dan siluet burung kepodang.
Taat mengutarakan, wajah baru itu menjadi satu komitmen TKL Ecopark untuk mengambil segmen yang lebih luas lagi. Misalnya kaum milenial maupun generasi Z. Sehingga perlu ada nama yang kekinian. “Orang-orang tua mungkin sudah nyaman dengan nama Taman Kyai Langgeng. Tapi, anak-anak muda hari ini perlu ada sebuah strategi (untuk menjangkaunya),” jelas bapak dua anak ini.
TKL Ecopark pun semakin gencar membuat konten di media sosial untuk mengenalkan wajah baru Taman Kyai Langgeng. Sebagai upaya menjaring kembali para pengunjung yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke TKL Ecopark.
Transformasi terakhir yakni financial transformation. Hingga kini, penerapannya masih menjadi PR dan masih terus berproses. Karena di dalamnya memuat digitalisasi yang bisa diterapkan untuk membeli tiket masuk TKL Ecopark. Harapannya, penerapan digitalisasi itu, masalah keuangan bisa lebih termonitor. Baik dari sisi pendapatan maupun pengeluaran.
Dia menyebut, transformasi itu sejalan dengan visi TKL Ecopark, yakni menjadi destinasi wisata terbaik nasional dengan pengelolaan bisnis yang profesional. Meski masih terlampau jauh, setidaknya visi itu menjadi semangat bagi para pengelola untuk mengejar target tersebut. “Kita sedang coba mengidentifikasi apa keunggulan terbaik yang kita miliki,” ujar pria 42 tahun itu.
Taat mengakui, untuk menerapkan konsep transformasi itu tidaklah mudah. Lantaran harus mengubah semua elemen. Utamanya dari sisi sumber daya manusia (SDM). Sehingga dia pun ingin mengubah mindset, penampilan, dan sikap. Ketiganya dirasa penting demi memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung. (aya/eno)
Editor : Heru Pratomo