MUNGKID - Rencana pemasangan chattra semakin mencuat usai terselenggaranya rapat koordinasi nasional (rakornas) pada Juli lalu dengan beberapa menteri.
Hanya saja, rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan justru menimbulkan polemik. Karena batu chattra dinilai tidak asli dan merupakan batu baru.
Pada saat Candi Borobudur ditemukan kembali dan ditulis oleh Stamford Raffles pada tahun 1814, kondisi candi sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Stupa induk telah rusak dan sebagian terbuka. Bahkan di bagian atas stupa induk terdapat bangunan cungkup.
Kemudian, dilakukan pemugaran oleh Theodore van Erp pada 1907. Lalu, pada 1911 dapat mengembalikan 72 stupa yang sudah rusak parah dan merekonstruksi stupa induk.
Kemudian, dilakukan pemugaran oleh Theodore van Erp pada 1907. Lalu, pada 1911 dapat mengembalikan 72 stupa yang sudah rusak parah dan merekonstruksi stupa induk.
Saat proses rekonstruksi itu, van Erp menemukan sisa-sisa batu yang diduga sebagai bagian dari chattra.
Dengan sedikit sisa-sisa batu itu, van Erp merekonstruksi dengan menambah batu-batu baru. Chattra tersebut akhirnya dapat tersusun kembali dengan batu yang sebagian besar merupakan batu tambahan (batu baru). Kemudian, chattra itu dipasang di atas Stupa Induk Candi Borobudur.
Di satu sisi, van Erp merasa ragu terhadap keaslian Chatra yang dipasang. Setelah didokumentasikan, chattra tersebut dicopot kembali sekitar 1910.
Dengan sedikit sisa-sisa batu itu, van Erp merekonstruksi dengan menambah batu-batu baru. Chattra tersebut akhirnya dapat tersusun kembali dengan batu yang sebagian besar merupakan batu tambahan (batu baru). Kemudian, chattra itu dipasang di atas Stupa Induk Candi Borobudur.
Di satu sisi, van Erp merasa ragu terhadap keaslian Chatra yang dipasang. Setelah didokumentasikan, chattra tersebut dicopot kembali sekitar 1910.
Setelah chatra dicopot, maka stupa induk Candi Borobudur bentuknya seperti saat ini yang dilengkapi dengan penangkal petir.
Bebatuan yang merupakan bagian chattra itu kini tersusun di kompleks Museum dan Cagar Budaya Borobudur. Keinginan dan permintaan untuk memasang kembali chattra mulai muncul sekitar 2008-2009.
Bebatuan yang merupakan bagian chattra itu kini tersusun di kompleks Museum dan Cagar Budaya Borobudur. Keinginan dan permintaan untuk memasang kembali chattra mulai muncul sekitar 2008-2009.
Ini didasarkan melalui diskusi panjang para arkeolog dengan memperhatikan kaidah dan prinsip pemugaran.
Tapi, saat itu, keputusannya chattra tidak layak untuk dipasang kembali. Lantas, keinginan untuk memasang chattra kembali muncul pada 2018. Namun, hasilnya masih sama.
Tidak layak untuk dipasang. Lalu, pada 2023 ini, kembali mencuat soal rencana pemasangan chattra Candi Borobudur.
Staf MCB Unit Warisan Dunia Candi Borobudur Hari Setyawan menjelaskan, dari data arkeologi, tidak ada satupun candi Buddha dari abad ke-7 hingga ke-10 yang mempunyai elemen arsitektural berupa chattra. Karena bentuk stupa induk, dibuat sama dengan stupa di bawahnya.
Staf MCB Unit Warisan Dunia Candi Borobudur Hari Setyawan menjelaskan, dari data arkeologi, tidak ada satupun candi Buddha dari abad ke-7 hingga ke-10 yang mempunyai elemen arsitektural berupa chattra. Karena bentuk stupa induk, dibuat sama dengan stupa di bawahnya.
Baca Juga: Ada Candi Borobudur dan Tempat Lahir Buddha Gautama, Kabupaten Magelang Jajaki Sister City
MCB juga sudah berkali-kali menyampaikan kepada pemerintah bahwa chattra yang sekarang ada, tidak asli.
MCB juga sudah berkali-kali menyampaikan kepada pemerintah bahwa chattra yang sekarang ada, tidak asli.
"Kenapa van Erp membawa batu-baru tersebut? Inilah yang kami namakan salvage archeology. Artinya, dia mengambil beberapa balok batu di sekitar situs Candi Borobudur," terangnya saat ditemui, Selasa (10/10).
Dia pun tidak mengetahui secara pasti asal-usul batu itu. Karena ada beberapa kemungkinan bahwa batu itu berasal dari sekitar Borobudur. Yang jelas, struktur bebatuan itu bukan chattra dari Candi Borobudur.
Dia pun tidak mengetahui secara pasti asal-usul batu itu. Karena ada beberapa kemungkinan bahwa batu itu berasal dari sekitar Borobudur. Yang jelas, struktur bebatuan itu bukan chattra dari Candi Borobudur.
Baca Juga: Susul Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Sumbu Filosofi Jogja Jadi Warisan Budaya Dunia
Dari segi struktural, chattra terdiri dari 13 lapis. Sambungan antar batu dibuat menggunakan batu beton bertulang oleh van Erp.
Jika chattra yang kini ada di kompleks MCB asli, sambungannya,tidak menggunakan beton bertulang. Melainkan menggunakan sistem kuncian antar batu.
Hari menambahkan, ada beberapa batu hasil rekayasa van Erp yang digunakan untuk menyusun chattra. Pertama, batu van Erp yang membentuk batu andesit. Kedua, batu rekondisi yang merupakan balok batu asli Candi Borobudur.
Hari menambahkan, ada beberapa batu hasil rekayasa van Erp yang digunakan untuk menyusun chattra. Pertama, batu van Erp yang membentuk batu andesit. Kedua, batu rekondisi yang merupakan balok batu asli Candi Borobudur.
Baca Juga: Minimalisasi Keausan Batu Candi Borobudur, Batasi 1.200 Orang Per Hari
"Kemudian, batu Stutterheim. (Dia) juga berusaha memasang kembali chattra. Tapi, dia meninggal tragis di tahanan Jepang. Terakhir, batu yang baru dibuat saat ini," sebut Hari.
Batu-batu itu, untuk melengkapi bentuk rekayasa oleh van Erp yang merupakan bagian dari sejarah. Dia menilai, nilai spiritualitas Candi Borobudur, tidak tergantung pada chattra-nya.
"Kemudian, batu Stutterheim. (Dia) juga berusaha memasang kembali chattra. Tapi, dia meninggal tragis di tahanan Jepang. Terakhir, batu yang baru dibuat saat ini," sebut Hari.
Batu-batu itu, untuk melengkapi bentuk rekayasa oleh van Erp yang merupakan bagian dari sejarah. Dia menilai, nilai spiritualitas Candi Borobudur, tidak tergantung pada chattra-nya.
"Tapi adalah mandala, posisi candi, dan juga komponen-komponen penyusunnya," sambungnya.
Sementara itu, salah satu tokoh pemugar Candi Borobudur Ismijono, 72 menjelaskan, saat pemugaran kedua pada 1973-1983, mereka tidak menemukan chattra. Karena pemugaran itu tidak menyentuh hingga stupa induk Candi Borobudur.
Sementara itu, salah satu tokoh pemugar Candi Borobudur Ismijono, 72 menjelaskan, saat pemugaran kedua pada 1973-1983, mereka tidak menemukan chattra. Karena pemugaran itu tidak menyentuh hingga stupa induk Candi Borobudur.
Baca Juga: Lupa Matikan Obat Nyamuk saat Ditinggal Pergi, Rumah Pak RT Terbakar
Terlebih, lanjut dia, candi-candi Buddha umumnya tidak memiliki chattra. Seperti halnya Candi Mendut yang hanya memiliki stupa, tapi tidak ada chattra di atasnya. "Kalau berorientasi pada aspek perlindungan, maka itu (pemasangan) tidak bisa dilakukan," ungkapnya.
Namun, ketika berbicara soal pengembangan dan pemanfaatan Candi Borobudur, haruslah melibatkan beberapa disiplin ilmu.
Terlebih, lanjut dia, candi-candi Buddha umumnya tidak memiliki chattra. Seperti halnya Candi Mendut yang hanya memiliki stupa, tapi tidak ada chattra di atasnya. "Kalau berorientasi pada aspek perlindungan, maka itu (pemasangan) tidak bisa dilakukan," ungkapnya.
Namun, ketika berbicara soal pengembangan dan pemanfaatan Candi Borobudur, haruslah melibatkan beberapa disiplin ilmu.
"Kalau dari dokumen Raffles, chattra itu tidak ada. Itu (pemasangan chattra) prisipnya adalah bagaimana mempertahankan keaslian bentuk," imbuhnya. (aya)