Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Krisis Air, Warga Tangkisan Gali Sungai Kering

Hendri Utomo. • Rabu, 4 Oktober 2023 | 19:45 WIB

BERBURU AIR: Warga Dusun Tangkisan II, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo membuat sumur belik di sungai yang sudah mengering, Selasa (3/10).HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BERBURU AIR: Warga Dusun Tangkisan II, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo membuat sumur belik di sungai yang sudah mengering, Selasa (3/10).HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA


RADAR JOGJA - Kemarau panjang tahun ini memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah di Kulon Progo. Salah satunya dialami warga Dusun Tangkisan II, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap. Warga terpaksa menggali sungai kering untuk mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Berbekal cangkul dan linggis, warga bergotong royong menggali tepian sungai yang sudah mengering untuk membuat belik atau sumur dengan kedalaman sekitar 2-3 meter. Sumber mata air kecil di sejumlah titik sungai kering itu menjadi salah satu solusi bagi warga untuk bertahan di musim kemarau panjang. "Kemarau tahun ini cukup panjang, banyak sumur warga mengering, kami coba cari solusi membuat belik di sungai seperti ini," ucap Ketua RW 27, Dusun Tangkisan II Karyono, Selasa (3/10).

Dijelaskan, pembuatan sumur belik sebetulnya sudah bisa dilakukan warga, di musim kemarau ini adalah tradisi turun temurun warga Tangkisan II. Wilayah Tangkisan II termasuk kawasan rawan kekeringan maka butuh alternatif lain selain pasokan air dari PDAM. Di wilayah ini ada 30 an KK (kepala keluarga) yang terdampak langsung kekeringan.”Kalau belik ini kedalamannya sekitar 3 meter sudah keluar airnya," jelasnya.

Menurutnya, air belik biasanya dibuat di alur sungai yang dekat dengan pohon besar, salah satunya Pohon Gayam yang memang banyak tumbuh di sekitar Sungai Tangkisan. Akar pohon Gayam memang dikenal hebat menangkap air atau menjadi pendukung utama sumber mata air. Di desa ini memang banyak pohon gayam. aat sungainya kering di bawah pohon-pohon tersebut biasanya masih ada simpanan air.”Meski harus digali terlebih dahulu," ujarnya.

Salah satu warga Marwoto mengaku sudah biasa menggunakan sumber air dari belik. Air ini biasanya dimanfaatkan untuk mandi, mencuci pakaian hingga memasak. Kendati demikian air dari belik biasanya tidak langsung digunakan, tetapi harus didiamkan beberapa saat, agar mengendap. Setelah itu baru aman untuk digunakan. "Harus diendapkan dulu beberapa saat baru digunakan," ucapnya.

Diungkapkan, kendati krisis air bersih sudah menjadi hal biasa bagi warga di Dusun Tangkisan II, Marwoto juga warga lainnya berharap persoalan ini bisa menjadi perhatian pemerintah, semisal bisa membuatkan sumur bor atau pembuatan bak penampungan air bersih. Harapannya semoga pemerintah bisa memberi bantuan sumur bor atau setidaknya ada bak penampungan air bersih. “Agar krisis air di sini bisa terselesaikan," ungkapnya. (tom/din)

Editor : Satria Pradika
#Kekeringan #Kulon Progo