RADAR JOGJA - Ada pemandangan berbeda di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri. Ketika airnya surut seperti sekarang ini, penampakan makam kuno menjadi pemandangan tersendiri.
Ya, terkesan sedikit horor, namun itu menjadi keunikan. Sebagai bukti nyata bahwa, WGM sejatinya puluhan desa yang ditinggali penduduk, yang kemudian melakukan bedol desa.
Makam-makan kuno ini dapat disaksikan di Kelurahan Wuryantoro, kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. Makam lawas letaknya di dasar Waduk Gajah Mungkur.
Jika dicermati lebih teliti, tulisan aksara jawa tampak masih berbekas di batu-batu nisan putih dari batu pualam itu.
Menurut Camat Wuryanto Sumardjono Fadjri, kemunculan makam-makam tersebut sering terjadi saat musim kemarau, sebab sebelum waduk dibuat makam-makam tersebut sudah ada.
Sejarah Waduk Gajah Mungkur Wonogiri
Konon ide pembuatan waduk ini sudah tercetus empat tahunsebelum Indonesia merdeka, yakni sekitar 1941. Pencetusnya yaitu Ir Mr Sarsito Mangunkusumo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pekerjaan Umum Mangkunegaran Surakarta.
Namun pembangunan baru terealisasi sekitar 1970 silam. Waduk dibangun oleh pemerintahan Indonesia dibantu Jepang.
Saat pembangunan WGM, harus dilakukan bedol desa. Sebanyak 45 desa dengan penduduk mencapai 41.369 orang tersebar di enam kecamatan harus pindah. Dan sebagaian besar mengikuti program transmigrasi ke Pulau Sumatera.
Pada Juli 1981, waduk ini mulai terisi dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Pembangunan ini menelan biaya Rp 69,5 miliar saat itu.
Pasokan Air dari Sungai di Jawa Tengah
Dinamakan Gajah Mungkur karena waduk ini terletak di sekitar Pegunungan Gajah Mungkur. Berjarak 6 kilometer dari pusat Wonogiri kota.
Sumber air di waduk ini berasal dari sungai terbesar di Jawa Tengah dan sejumlah sungai lainnya. Yaitu, Sungai Bengawan Solo, Sungai Keduang, Tirtomoyo, Temon, Posong dan lain sebagainya.
Waduk ini luasannya mencapai 9.100 hektare. Memiliki kapasaitas normal daya tampung air sebesar 560.000.000 meter kubik.
Berubah Menjadi Padang Rumput
Pada musim kemarau ekstrem, tepian waduk yang kering berubah menjadi padang rumput.
Tentu tak kalah menarik dan justru mengunang pesona tersendiri. Menjadi wisata dadakan.
Saban sore ramai dikunjungi wisatawan. Bahkan, menjadi ladang rejeki bagi penduduk sekitar waduk. Mereka membuka lapak-lapak usaha.
Apalagi pemandangan sore, sunset membungkus keindahan panorama Waduk gajah Mungkur. Syahdu, apalagi menikmati senja di WGM sembari menyesap Kopi.
Berkah Nelayan
Dilansir dari Radar Solo, surutnya debit air WGM menjadi berkah tersendiri bagi para nelayan. Sebab, tangkapan ikan melonjak dahsyat. Hasil tangkapan ikan bisa delapan kali lipat dibandingkan pada saat musim penghujan.
Salah satu Nelayan bernama Maryadi mengaku, dalam sehari, saat kemarau seperti ini, dia bisa mendapatkan ikan 10 kilogram (kg). Hal ini lebih baik dari biasanya pada musim hujan yang hanya mampu mendapatkan buruan 2 kg. (Putri Hanna)
Editor : Meitika Candra Lantiva