MAGELANG, Radar Jogja - Puluhan warga Tri Dharma mengikuti ritual Keng Hoo Ping/Ulambana dan pelimpahan jasa di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio, Kota Magelang, Rabu (6/9). Tujuannya untuk mendoakan arwah leluhur. Ritual tersebut diawali dengan pemukulan gong dan genta. Kemudian, dilanjutkan dengan sembahyang pembuka.
Ritual ini dilakukan saban tahun, tepatnya pada tanggal 22 bulan ketujuh penanggalan Imlek (Jit Gwe). Pada tanggal 1-15, mereka melakukan ritual khusus untuk arwah keluarga yang masih memiliki hubungan darah. Setelah itu, barulah dilakukan untuk arwah secara umum.
Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio Gunawan menjelaskan, ritual ini bertujuan sebagai laku bakti anak-anak kepada orang tua atau leluhur masing-masing. Sebab, mereka percaya, tanpa adanya para leluhur, mereka tidak ada. Ritual Keng Hoo Ping inilah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada para leluhur.
Dalam ritual itu, terdapat dua meja makanan yang disukai leluhur. Baik yang mengonsumsi daging dan tidak mengonsumsi daging (vegetarian). Tidak ada makanan khusus bagi arwah leluhur.
Adapun makanan dari darat yang disajikan adalah daging babi. "Kalau dari laut, ada ikan bandeng. Untuk udara, sebenarnya burung, tapi yang disajikan ayam," jelasnya.
Adapun rangkaian ritual Keng Hoo Ping ini cukup panjang. Dimulai pukul 09.00 hingga 16.00. Setelah sembahyang Tri Dharma, dilakukan pembacaan paritta secara Buddhis yang dipimpin oleh Bhikkhu Sasana Bodhi.
Lalu, dilanjutkan dengan pembacaan doa Bunsu Aji Chandra secara Konghucu. "Kalau secara agama Taoisme, sudah dilakukan satu minggu lalu dipimpin oleh Ardian Chang," sebutnya.
Dia mengatakan, ada lebih dari 800 nama arwah leluhur yang berjajar dan ditempel di dinding. Lalu, ada juga miniatur kapal yang dipercaya sebagai sarana angkutan untuk mengantar para arwah leluhur kembali ke alamnya masing-masing. "Kamu (arwah) sudah mami kasih makan (persembahan), silakan balik lagi," imbuhnya.
Ada juga rumah-rumahan agar arwah mendapat tempar yang layak. Selain itu, ada patung yang dinamai raja neraka. Raja itu sebagai ungkapan untuk meminta izin atau kulo nuwun. Tujuannya agar persembahan yang diberikan kepada leluhur dapat tersampaikan.
Di depan raja neraka tersebut, ada beras dan kebutuhan pokok lainnya. Setelah sembahyang selesai, kebutuhan pokok itu nantinya dibagikan kepada umat Tri Dharma maupun kerabatnya yang membutuhkan.
Dia menjelaskan, baik raja neraka, miniatur kapal, maupun rumah nantinya akan dibakar. Sebagai simbol agar semua doa bisa tersampaikan. Karena elemen api menjadi simbol untuk menyempurnakan apa yang sudah dilakukan.
Gunawan menyebut, pihaknya juga menyediakan beberapa gunungan berupa makanan ringan. Dulunya, gunungan itu berupa hasil panen. Namun, seiring berjalannya waktu dan gunungan diletakkan di alam terbuka, tanpa penutup, sehingga panitia mencari snack.
Dia menambahkan, ritual ini juga disebut dengan sembahyang rebutan. Konon, setelah sembahyang, masyarakat sekitar klenteng akan berbondong-bondong datang untuk memperebutkan gunungan itu. Lantaran banyak menimbulkan kecelakaan dan membuat cedera, akhirnya tidak diperebutkan. Tetapi, dibagikan secara tertib. (aya)
Editor : Amin Surachmad