Bukan Lagi Bahan Pangan Murah, Harga Telur di Jepang Melonjak Mendekati Rekor Termahal

Perawati • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 15:47 WIB
Meningkatnya biaya produksi, termasuk harga pakan yang lebih tinggi yang sebagian disebabkan oleh ketegangan di Timur Tengah, sebagian besar menjadi penyebabnya. (foto: kolase berbagai sumber)
Meningkatnya biaya produksi, termasuk harga pakan yang lebih tinggi yang sebagian disebabkan oleh ketegangan di Timur Tengah, sebagian besar menjadi penyebabnya. (foto: kolase berbagai sumber)

Harga telur di Jepang tetap tinggi, bertentanga dengan reputasinya yang selama ini dikenal sebagai komoditas paling stabil.

Meningkatnya biaya produksi, termasuk harga pakan yang lebih tinggi yang sebagian disebabkan oleh ketegangan di Timur Tengah, sebagian besar menjadi penyebabnya.

Situasi ini kian mengkhawatirkan para pelaku industri peternakan seiring mendekatnya musim dingin dan ancaman wabah flu burung, di mana permintaan pasar terhadap telur biasanya mencapai puncak jelang perayaan Natal.

Baca Juga: Update Status Gunung Merapi Hari Ini 12 Oktober 2026, Gempa Vulkanik dan Guguran Masih Mendominasi

Di Supermarket Akidai Sekimachi yang berlokasi di Wilayah Nerima, Tokyo, satu kemasan berisi 10 butir telur ukuran sedang dijual seharga 268 yen (Rp30.300) atau sekitar 289 yen termasuk pajak pada awal Oktober.

Kenaikan harga ini langsung memukul daya beli masyarakat setempat hingga memaksa konsumen mengurangi tingkat konsumsi harian.

Demi menarik pembeli, pihak supermarket memang masih menyelenggarakan promo khusus setiap hari Minggu dengan menjual satu kemasan telur seharga 88 yen.

Presiden Supermarket Akidai, Hiromichi Akiba, mengungkapkan bahwa strategi diskon tersebut sebenarnya membuat ritelnya menanggung kerugian sepanjang tahun, namun pihak manajemen berupaya bertahan dengan memangkas biaya promosi serta menata ulang efisiensi tenaga kerja.

"Ini sulit, tetapi kami mengatasinya dengan memangkas pengeluaran iklan dan menyesuaikan biaya tenaga kerja,” kata Hiromichi.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang dari hasil survei terhadap 470 toko di seluruh negeri dari tanggal 7 hingga 9 September, rata-rata harga eceran satu kemasan isi 10 butir telur mencapai 309 yen kisaran Rp35.000.

Angka tersebut menyamai rekor harga tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah ritel Jepang. Kenaikan harga pakan ternak impor menjadi faktor determinan utama yang menjaga harga telur tetap melambung.

Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Pertanian bahkan telah memutuskan untuk menaikkan harga pasokan pakan rata-rata sebesar 3.200 yen per ton untuk kuartal Oktober hingga Desember, yang menandai kenaikan harga dalam empat kuartal berturut-turut.

Selain masalah pakan, ancaman gelombang wabah flu burung menjelang akhir tahun memicu kecemasan mendalam akan terjadinya kelangkaan stok telur secara nasional.

Jepang tercatat mengalami fenomena wabah flu burung selama enam musim berturut-turut sejak tahun 2020.

Pada musim 2022 lalu, sebanyak 17,71 juta ekor unggas harus dimusnahkan hingga memicu egg shock atau krisis pasokan telur yang memaksa berbagai industri menghentikan sementara lini produksi olahan berbasis telur.

Baca Juga: Profil Mauro Cabellero, Masih Incar Gol Perdana bersama PSIM Jogja di Super League 2026/27

Guna mengantisipasi krisis berulang, organisasi produsen dan perusahaan swasta kini berkolaborasi meningkatkan efisiensi distribusi serta memperluas penggunaan produk telur beku yang memiliki daya simpan lebih lama.

Perusahaan pangan raksasa seperti Kewpie yang mengonsumsi sekitar 250.000  ton telur per tahun juga mulai mendiversifikasi wilayah pengadaan hingga mengimpor telur dari Brasil sejak 2023.

Sementara itu, produsen olahan telur cair Ifuji Sangyo menargetkan peningkatan volume penjualan tahunan hingga 80.000 ton pada tahun fiskal 2031.

Editor : Bahana.
harga telur di jepang jepang telur