RADAR JOGJA - Tim peneliti internasional yang terdiri dari para ahli geologi, arkeolog, dan ilmuwan dari Noah’s Ark Scans bekerja sama dengan akademisi Turki resmi memulai proyek pengeboran ilmiah terbesar dalam sejarah di Formasi Durupınar, kawasan dekat Gunung Ararat, Turki.
Pengeboran ini telah dimulai sejak Selasa, 22 September, waktu setempat.
Penelitian ini telah mendapat izin resmi dari pemerintah Turki, dengan tujuan menguji klaim spekulatif yang telah diperdebatkan selama lebih dari enam dekade, yaitu apakah struktur mirip bahtera tersebut merupakan formasi alam biasa atau benar-benar sisa Bahtera Nuh.
Ekspedisi ini dipimpin oleh pakar arkeologi Turki, Prof Dr Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University, bersama Andrew Jones, pendiri Noah's Ark Scans.
Baca Juga: Instruksi Pemprov DIY, Pemkab Kulon Progo Lakukan Monev SPPG
Ada dua misi utama dalam riset lapangan ini.
Misi pertama adalah pengambilan sampel inti dengan melakukan pengeboran sedalam 18 meter.
Sampel ini kemudian akan diuji selama musim dingin untuk menganalisis komposisi, kandungan organik, dan stratigrafinya.
Misi kedua adalah eksplorasi rongga dengan drone Gopher.
Para peneliti akan menurunkan drone penjelajahan bawah tanah bernama Gopher.
Drone berukuran kecil ini dirancang oleh dr. Robert Ross dari La Trobe University, Australia.
Baca Juga: Optimistis Tatap FIFA ASEAN Cup, John Herdman Sebut Talenta Indonesia Siap Jadi Juara
Nantinya, alat ini akan menelusuri rongga, lorong, dan koridor di bawah permukaan yang sebelumnya telah dipetakan dengan Ground-Penetrating Radar (GPR) dan tomografi resistivitas listrik.
Pendiri Noah’s Ark Scans, Andrew Jones, mengungkapkan bahwa proses pengambilan sampel telah menemukan lapisan material organik padat di dalam formasi tersebut.
"Sejauh ini kami telah mengangkat lapisan material organik kaya yang kami duga merupakan sisa-sisa dek atas bahtera yang melapuk. Kami juga menemukan beberapa rongga, termasuk yang terisi lumpur dan air. Hingga saat ini, tidak ada batuan dasar ( bedrock ) atau batu kapur padat yang ditemukan di dalam lubang bor. Temuan ini membantah klaim bahwa formasi ini hanyalah bukit batu kapur alami," ujar Andrew Jones dalam dikutip AP News, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Chelsea Pantau Bek Muda Real Sociedad, Siap Rogoh Rp900 Miliar pada Januari
Sementara itu, formasi berbentuk kapal sepanjang 157 meter ini pertama kali ditemukan pada 1959 oleh Kapten Angkatan Darat Turki, İlhan Durupınar, melalui foto udara.
Tim peneliti kini berpacu dengan waktu sebelum cuaca ekstrem dan pembekuan tanah di kawasan timur Turki.
Hasil analisis laboratorium atas sampel organik serta rekaman dari drone GOPHER diharapkan dapat memberikan kejelasan ilmiah mengenai misteri Formasi Durupınar.
Editor : Meitika Candra Lantiva