Ketegangan di Timur Tengah, tampaknya akan terus berlanjut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan empat rudal Ghadr ke kapal induk USS Abraham Lincoln, menurut laporan Press TV, dengan mengutip keterangan pers IRGC.
IRGC juga melancarkan serangan rudal balistik terhadap pertemuan rahasia para teknisi penerbangan dan pilot pesawat tempur Amerika Serikat (AS) di dekat sebuah pangkalan di Uni Emirat Arab (UEA), menurut laporan tersebut, Kamis (2/4).
Selain itu, sistem pertahanan udara IRGC juga dilaporkan menembak jatuh sebuah "jet tempur utama musuh" yang jatuh di antara Pulau Qeshm dan Hengam di Teluk Persia.
Iran telah menyerang wilayah Israel dan sasaran militer AS di Timur Tengah sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Baca Juga: Membuka Tabir Gunung Slamet: Sejarah, Letusan, dan Mitos Ramalan Jayabaya
Hari pertama serbuan AS dan Israel mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin militer Iran gugur, sementara sebuah sekolah perempuan di Iran selatan juga porak poranda setelah terkena hantaman rudal.
Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat serangan tersebut mencapai lebih dari 1.200 orang.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan akan kembali melakukan serangan besar-besaran kepada Iran.
Trump sesumbar akan membuat Iran kembali ke Zaman Batu di tengah serangan masif dari negara tersebut.
Dalam salah satu unggahan di media sosial buatannya Truth Social pada Rabu (31/3), Trump membahas kemungkinan gencatan senjata AS dan Iran. Dia lalu menekankan baru mengambil langkah ini jika Selat Hormuz terbuka.
"Presiden rezim baru Iran, yang jauh kurang radikal dan jauh lebih cerdas daripada para pendahulunya, untuk meminta Amerika Serikat gencatan senjata," kata Trump.
Baca Juga: Link Live Streaming BRI Super League Dewa United vs PSIM Jogja Jumat 3 April 2026
"Kami akan mempertimbangkan saat Selat Hormuz terbuka, bebas, dan aktif. Hingga saat itu, kami akan terus menyerang Iran atau seperti mereka bilang, kembali ke Zaman Batu," paparnya menambahkan.
Editor : Bahana.