Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara di dunia menghadapi tren yang sama, yaitu angka kelahiran terus menurun. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga mulai terlihat di negara berkembang.
Penurunan angka kelahiran kini menjadi isu demografi global yang berdampak langsung pada struktur penduduk, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Dilansir dari Our World in Data, tingkat fertilitas global mengalami penurunan tajam sejak pertengahan abad ke-20. Jika pada tahun 1950 rata-rata perempuan di dunia melahirkan lebih dari lima anak, saat ini angka tersebut turun hingga di bawah 2,5 anak per perempuan.
Bahkan, banyak negara sudah berada di bawah replacement level sebesar 2,1, ambang batas minimum untuk menjaga jumlah populasi tetap stabil tanpa migrasi.
Secara sederhana, angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) mengukur rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan sepanjang usia reproduktifnya.
Ketika TFR berada di bawah 2,1, suatu negara berpotensi mengalami penyusutan populasi dalam jangka panjang, disertai peningkatan proporsi penduduk lanjut usia.
Baca Juga: Tuntut Pembayaran Gaji Selama Tiga Bulan, Karyawan CV Evergreen Sleman Lakukan Demo
Dilansir dari laporan Global Fertility Rates yang mengevaluasi data terbaru, TFR dunia sekitar 2,3 anak per perempuan pada 2023, turun drastis dari lebih dari lima anak di pertengahan abad ke-20, meskipun masih di atas replacement level sebesar 2,1 di beberapa wilayah. Tren ini menandakan perubahan besar dalam demografi global dengan banyak negara berada dekat atau bahkan di bawah angka pengganti generasi.
Salah satu penyebab utama penurunan angka kelahiran adalah perubahan sosial dan ekonomi. Peningkatan akses pendidikan, terutama bagi perempuan, serta keterlibatan yang lebih besar dalam dunia kerja membuat keputusan untuk memiliki anak semakin dipertimbangkan secara matang.
Di banyak negara, pernikahan dan kehamilan pertama kini terjadi pada usia yang lebih tua dibandingkan generasi sebelumnya.
Selain itu, urbanisasi dan tingginya biaya hidup di kota besar juga berpengaruh signifikan. Memiliki anak tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan sosial, melainkan sebagai tanggung jawab ekonomi jangka panjang. Faktor ini mendorong banyak pasangan memilih memiliki anak lebih sedikit atau bahkan menunda kehamilan.
Perubahan nilai dan orientasi hidup turut memperkuat tren ini. Masyarakat modern cenderung menempatkan kualitas hidup, stabilitas finansial, dan pengembangan diri sebagai prioritas. Anak tidak lagi dipandang sebagai keharusan, melainkan sebagai pilihan personal yang bergantung pada kesiapan mental dan ekonomi.
Kajian ilmiah berjudul The Global Decline in Fertility Rates (2024) menjelaskan bahwa penurunan fertilitas merupakan hasil dari perubahan struktural dalam masyarakat modern, mulai dari meningkatnya akses pendidikan, pergeseran peran gender, hingga perubahan orientasi hidup yang semakin menekankan stabilitas ekonomi dan kualitas hidup.
Baca Juga: Mengulik Jajanan Jadul Es Gabus Bertekstur Seperti Spons, Bocoran Rahasia dari Chef!
Keputusan untuk memiliki anak tidak lagi semata-mata didorong oleh norma sosial, melainkan oleh pertimbangan rasional dan kondisi material yang dihadapi individu maupun keluarga.
Dampak dari tren ini cukup luas. Penurunan angka kelahiran berkonsekuensi pada penuaan populasi, berkurangnya tenaga kerja produktif, serta meningkatnya beban sistem kesehatan dan pensiun. Karena itu, banyak negara mulai merancang kebijakan pro-keluarga, seperti insentif kelahiran, cuti orang tua, dan dukungan pengasuhan anak.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.