Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Macron Serukan Moratorium Serangan ke Fasilitas Sipil Usai Israel Bombardir South Pars Iran, Iran Balas Sasar Ras Laffan Qatar

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 19 Maret 2026 | 06:33 WIB

Rombongan Presiden Prabowo dan Presiden Prancis Macron saat di Akmil Magelang, Kamis (29/5).
Rombongan Presiden Prabowo dan Presiden Prancis Macron saat di Akmil Magelang, Kamis (29/5).

PARIS, 19 Maret 2026 – Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak penerapan moratorium segera atas serangan militer yang menyasar infrastruktur sipil, khususnya fasilitas energi dan pasokan air, menyusul eskalasi konflik Timur Tengah yang kini meluas ke sektor energi strategis.

Dalam pernyataan resminya di akun X @EmmanuelMacron pada Rabu (18/3/2026) malam waktu setempat, Macron mengungkapkan telah berkomunikasi langsung dengan Emir Qatar serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah serangan menghantam fasilitas produksi gas di Iran dan Qatar hari itu.

“Sudah menjadi kepentingan bersama untuk segera menerapkan moratorium terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, terutama fasilitas energi dan pasokan air. Populasi sipil beserta kebutuhan esensial mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer,” tulis Macron.

Konteks pernyataan ini muncul pasca laporan serangan Israel terhadap South Pars, ladang gas alam terbesar di dunia yang terletak di Teluk Persia dan dibagi antara Iran dan Qatar (sisi Qatar disebut North Field). 

South Pars menjadi tulang punggung pasokan gas Iran dan berkontribusi signifikan pada ekspor LNG global melalui Qatar.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke Ras Laffan Industrial City di Qatar, pusat produksi LNG terbesar dunia yang memasok sekitar 20% kebutuhan LNG global. 

Serangan itu dilaporkan memicu kebakaran dan kerusakan luas di fasilitas energi utama Qatar, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.

Harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 5% dalam hitungan jam setelah kejadian, sementara lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital 30% perdagangan minyak global—terancam terganggu lebih parah.

Reaksi publik di platform X terhadap pernyataan Macron beragam. 

Sebagian pengguna menilai seruan ini terlambat dan bersifat selektif, mengingatkan Macron atas keheningannya terhadap korban sipil di wilayah konflik sebelumnya seperti Gaza, Lebanon, dan Iran sendiri. 

“Mengapa baru bicara setelah fasilitas gas Qatar terdampak?” tulis salah satu netizen.

Macron menegaskan posisi Prancis tetap netral namun pro-stabilitas energi global, sekaligus menekankan perlindungan warga sipil di tengah keterlibatan AS dan Israel dalam operasi militer terhadap Iran.

Eskalasi ini berpotensi memicu krisis energi lebih luas di Eropa dan Asia, termasuk kenaikan harga BBM dan gas yang signifikan jika konflik berlanjut tanpa de-eskalasi. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#emanuel macron #geopolitik #Eskalasi politik #perang iran #Amerika Serikat