Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trump Mulai Memuji Negosiasi Iran sebagai "Orang Sangat Pintar" dan "IQ Tinggi", Tanda Putus Asa Cari Kesepakatan di Tengah Perang?

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 17 Maret 2026 | 12:33 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

WASHINGTON, 17 Maret 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan memuji para negosiator Iran sebagai "very smart players" atau pemain yang sangat pintar, dengan "high-level intellect" dan "very high-IQ people".

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi perang AS-Iran yang telah memasuki minggu kedua, setelah serangan awal yang didukung Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Teheran.

Dalam pidato singkat di Gedung Putih pada 16 Maret 2026, Trump menggambarkan proses negosiasi dengan Iran seperti "big chess game at a very high level".

Ia menekankan bahwa lawan bicaranya adalah orang-orang cerdas yang tidak mudah dikalahkan.

"Saya sedang berurusan dengan pemain yang sangat pintar. Orang-orang ini pintar. Mereka tidak sampai di posisi itu kalau tidak," ujar Trump, seperti dikutip dari rekaman video yang viral di platform X.

Pernyataan ini langsung menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan retorika keras Trump sebelumnya.

Pada awal Maret, Trump sempat menyebut rezim Iran sebagai "salah satu yang paling jahat di bumi" dan menuduh mereka melakukan kekejaman ekstrem.

Kini, perubahan nada ini dianggap banyak pengamat sebagai sinyal desperate for a deal atau keputusasaan mencari kesepakatan damai.

Akun X @AdameMedia, yang dikenal dengan analisis geopolitik dan satire, menyebarkan klip video pidato Trump tersebut dengan caption:

"Trump has started praising Iran ... He’s a DESPERATE for a DEAL."

Postingan itu langsung ramai, mencatat lebih dari 40 ribu likes dan 1 juta views dalam waktu singkat.

Banyak netizen menyoroti inkonsistensi sikap Trump, dengan komentar seperti "gutless weasel" hingga spekulasi bahwa perlawanan sengit Iran membuat AS kesulitan mencapai kemenangan cepat.

Baca Juga: Catat! Ini 31 Titik Pelayanan PMI dan Ambulans di DIY selama Masa Mudik Lebaran 2026

Konflik AS-Iran memanas sejak akhir Februari 2026, dipicu kegagalan negosiasi nuklir dan serangan balasan Iran terhadap target militer Israel serta pangkalan AS di kawasan.

Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone, sementara AS dan sekutunya mengklaim telah "menghancurkan" sejumlah instalasi strategis, termasuk di Pulau Kharg.

Beberapa analis menilai pujian Trump ini sebagai taktik negosiasi klasik: mengakui kecerdasan lawan untuk membuka ruang kompromi tanpa terlihat lemah.

Namun, di kubu Iran, pernyataan itu justru dilihat sebagai bukti ketahanan Teheran.

Ribuan warga Iran turun ke jalan meneriakkan "Tidak ada kompromi, tidak ada menyerah, kami ingin balas dendam" meski di bawah ancaman bom.

Sementara itu, Trump dikabarkan masih membuka pintu dialog, meski sebelumnya menegaskan "terlambat" bagi Iran untuk bernegosiasi setelah serangan dimulai.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: akankah perang berakhir dengan kesepakatan damai, atau justru melebar menjadi konflik regional yang lebih luas? (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Orang Pintar #negosiasi #donald trump #perdamaian #putus asa #perang iran #iq tinggi