Radar Jogja – Di tengah eskalasi perang Iran melawan serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Maret 2026, Shahed-136 muncul sebagai senjata andalan Teheran.
Drone kamikaze (loitering munition) Shahed-136 buatan Iran ini dikenal murah meriah namun sangat efektif menguras pertahanan udara musuh, termasuk sistem Patriot dan THAAD yang harganya mencapai jutaan dolar AS per peluru.
Shahed-136, diproduksi oleh Shahed Aviation Industries, memiliki bentuk segitiga sederhana dengan panjang sekitar 3,5 meter, lebar sayap 2,5 meter, dan berat total 200 kg.
Drone ini membawa hulu ledak 30-50 kg yang meledak saat menabrak target. Didukung mesin piston MD-550, kecepatannya sekitar 185 km/jam (mirip suara mesin pemotong rumput), namun jangkauannya mencapai 2.000-2.500 km—cukup untuk menjangkau target di seluruh Timur Tengah, termasuk basis AS di Teluk Persia dan sekutu Israel.
Yang membuat Shahed-136 begitu ditakuti adalah biaya produksinya yang sangat rendah: estimasi $20.000 hingga $50.000 per unit (sekitar Rp300-800 juta).
Ini kontras tajam dengan biaya intersepsi—satu rudal Patriot bisa mencapai $3-4 juta—sehingga rasio biaya 1:100 atau lebih.
Iran mampu memproduksi ratusan hingga ribuan unit, lalu meluncurkannya dalam serangan swarm (gerombolan) untuk membanjiri radar dan sistem pertahanan.
Dalam konflik Maret 2026, Iran telah meluncurkan lebih dari 1.000 Shahed-136 ke Bahrain, Kuwait, UAE, dan target Teluk lainnya sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Meski banyak yang berhasil dicegat, puluhan lolos dan menghantam infrastruktur sipil serta militer, menimbulkan kerusakan signifikan.
AS bahkan merespons dengan drone tiruan sendiri bernama LUCAS (Low-cost Unmanned Combat Attack System) seharga sekitar $35.000 per unit, hasil reverse-engineering Shahed-136, yang digunakan pertama kali dalam operasi balasan.
Analis militer menyebut Shahed-136 mengubah paradigma perang modern: "mass production + low cost" mengalahkan teknologi mahal.
Di Ukraina sebelumnya, Rusia (dengan sebutan Geran-2) telah membuktikan efektivitasnya.
Kini, di Timur Tengah, drone ini menjadi ancaman utama bagi AS dan sekutunya, memaksa mereka menghabiskan stok rudal mahal untuk menangkis serangan murah.
Bagi masyarakat di Yogyakarta, Solo, Semarang, dan seluruh Jawa Tengah yang mengikuti berita global, Shahed-136 menunjukkan bagaimana senjata sederhana bisa mengganggu keseimbangan kekuatan superpower.
Lonjakan harga minyak akibat konflik ini juga berpotensi memengaruhi ekonomi Indonesia, termasuk inflasi dan biaya energi. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin