TEHERAN – Stasiun televisi negara Iran (IRIB) mengalami peretasan dramatis pada Minggu (1/3/2026) malam waktu setempat.
Siaran reguler tiba-tiba tergantikan oleh rekaman pesan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berbahasa Persia, menyerukan rakyat Iran untuk bangkit menggulingkan rezim dan merebut kendali atas masa depan negara mereka.
Video yang viral di media sosial X (dulunya Twitter) menunjukkan bagaimana siaran IRIB Channel 3 dan beberapa kanal lainnya diretas selama beberapa menit hingga belasan menit.
Dalam rekaman tersebut, Trump menyatakan bahwa operasi militer AS-Israel "berjalan lebih cepat dari jadwal" setelah berhasil menenggelamkan sembilan kapal perang Iran, serta menegaskan dukungan penuh Amerika bagi rakyat Iran yang ingin mengubah nasib bangsa.
"Sekarang saatnya merebut kendali atas takdir Anda sendiri. Bangkitlah dan ambil alih negara Anda," ujar Trump dalam pesan yang disertai subtitle bahasa Persia.
Sementara itu, Netanyahu menekankan bahwa ini adalah "kesempatan sekali seumur hidup" bagi rakyat Iran untuk membebaskan diri dari tirani.
Ia juga menampilkan cuplikan serangan udara Israel terhadap berbagai target di Iran, termasuk markas IRIB di Teheran dan lokasi strategis lainnya.
Peretasan ini terjadi di tengah eskalasi konflik besar antara AS-Israel melawan Iran.
Sehari sebelumnya (28 Februari 2026), serangan gabungan menghantam situs militer, nuklir, dan bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei—seperti yang dikonfirmasi media negara Iran sendiri.
Trump menyatakan operasi masih berlanjut dan menargetkan penghancuran total kekuatan angkatan laut serta infrastruktur rezim.
Peristiwa ini langsung memicu reaksi beragam di dunia maya.
Banyak warganet, terutama dari komunitas diaspora Iran, menyebutnya sebagai langkah psikologis paling canggih dalam konflik modern.
"Rezim yang selama puluhan tahun mengontrol setiap layar kini dipaksa menayangkan pesan musuh," tulis salah satu akun populer.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai durasi peretasan maupun upaya pemulihan siaran.
Namun, beberapa laporan menyebutkan bahwa beberapa situs berita negara seperti Tasnim, Fars, Mehr, dan IRIB News sempat tidak dapat diakses dari luar negeri akibat serangan siber lanjutan.
Situasi di Iran semakin memanas pasca-kematian Khamenei.
Demonstrasi sporadis dilaporkan muncul di beberapa kota, sementara pasukan IRGC dikabarkan menempatkan peluncur rudal di wilayah sipil untuk melindungi aset mereka—tindakan yang dikecam sebagai penggunaan tameng manusia.
Konflik ini berpotensi memicu perubahan besar di Timur Tengah. Banyak pengamat menyebut peretasan IRIB sebagai "perang psikologis tingkat tinggi" yang bisa mempercepat keruntuhan rezim jika diikuti gelombang protes massal seperti yang terjadi pada 2022 pasca-kematian Mahsa Amini. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin