Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perdana Menteri Inggris Murka, Trump Dinilai Hina Pengorbanan Tentara Inggris di Afghanistan

Magang Radar Jogja • Senin, 26 Januari 2026 | 14:19 WIB
Presiden Trump Berpartisipasi dalam Pengumuman Piagam Dewan Perdamaian.
Presiden Trump Berpartisipasi dalam Pengumuman Piagam Dewan Perdamaian.

RADAR JOGJA - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melontarkan kecaman keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah pernyataannya yang meremehkan peran pasukan NATO dalam perang Afghanistan.

Starmer menilai komentar Trump bukan sekadar keliru, tetapi juga menghina pengorbanan ribuan tentara sekutu, termasuk ratusan prajurit Inggris yang gugur di medan perang.

Ketegangan diplomatik itu mencuat setelah Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyebut pasukan NATO berada “sedikit di belakang garis depan” selama konflik Afghanistan.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari London, terutama karena Inggris merupakan salah satu kontributor terbesar dalam koalisi pimpinan AS pasca-serangan 11 September 2001.

Starmer secara terbuka menegur Trump dan menyebut pernyataan tersebut sebagai sesuatu yang tidak pantas.

Ia bahkan menyiratkan bahwa permintaan maaf seharusnya disampaikan oleh Trump.

“Jika saya salah bicara atau mengucapkan kata-kata seperti itu, saya tentu akan meminta maaf,” ujar Starmer, dilansir dari Al Jazeera.

Menurut Starmer, komentar Trump mengabaikan fakta sejarah bahwa lebih dari 150 ribu personel militer Inggris pernah bertugas di Afghanistan.

Dari jumlah tersebut, 457 tentara Inggris tewas setelah Inggris bergabung dalam invasi yang dipimpin Amerika Serikat untuk memerangi Al-Qaeda dan Taliban.

Starmer juga menegaskan bahwa kontribusi pasukan Inggris dan sekutu NATO lainnya tidak bisa dipisahkan dari aktivasi Pasal 5 NATO.

Klausul pertahanan kolektif itu untuk pertama kalinya diaktifkan setelah serangan 11 September 2001, justru untuk membantu Amerika Serikat setelah tragedi 9/11.

Di sisi lain, Trump tetap bergeming.

Ia kembali meragukan komitmen NATO terhadap Amerika Serikat dan menilai aliansi tersebut tidak akan memberikan bantuan jika AS membutuhkannya.

Pernyataan ini disampaikan Trump di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss, hanya beberapa hari setelah ia menarik ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa.

Pemerintah Amerika Serikat pun langsung membela Trump. Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyatakan bahwa presiden AS berada di pihak yang benar.

“Presiden Trump benar sepenuhnya, Amerika Serikat telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibandingkan gabungan negara lain dalam aliansi tersebut,” katanya dalam pernyataan resmi.

Reaksi keras juga datang dari dalam pemerintahan Inggris. Menteri Kesehatan Inggris Stephen Kinnock menilai komentar Trump sangat mengecewakan dan tidak berdasar.

Ia menyebut Starmer kemungkinan besar akan menyampaikan langsung keberatan tersebut kepada Trump.

“Saya pikir dia pasti akan mengangkat masalah ini dengan presiden. Perdana Menteri sangat bangga dengan angkatan bersenjata kita dan akan menjelaskan fakta itu secara tegas,” kata Kinnock dikutip dari Radio LBC.

Kinnock menambahkan, pernyataan Trump bertentangan dengan realitas sejarah.

“Apa yang dia katakan tidak masuk akal, karena satu-satunya kali Pasal 5 diaktifkan adalah untuk membantu Amerika Serikat setelah 11 September,” ujarnya.

Kontroversi ini kembali membuka luka lama terkait perang Afghanistan, konflik panjang yang menelan ribuan korban jiwa dari berbagai negara NATO.

Bagi Inggris, pernyataan Trump dinilai bukan hanya persoalan diplomatik, tetapi juga menyentuh harga diri nasional serta penghormatan terhadap mereka yang telah mengorbankan nyawa di medan perang. (Raka Adichandra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#tentara inggris #afganistan #donald trump #perdana menteri inggris #pengorbanan #trump #nato #presiden amerika