RADAR JOGJA - Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) menargetkan pangkalan militer Fuerte Tiuna yang terletak di Kota Caracas. Serangan yang diberi sebutan Absolute Resolve Operations (Operasi Resolusi Mutlak) tersebut terjadi pada sekitar pukul 02.00 waktu setempat yang menewaskan sekitar 80 orang.
Salah satu tujuan dari operasi yang dilakukan adalah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro Moros dan istrinya, Cilia Flores untuk diadili di New York atas tuduhan perdagangan narkoba dan senjata.
Siapa itu Maduro?
Nicolás Maduro Moros atau yang dikenal sebagai Maduro lahir pada 23 November 1962 di Caracas, Venezuela dari pasangan suami istri, Nicolás Maduro Garcia dengan Teresa Moros de Maduro.
Maduro mengenyam pendidikan menengah atas di Escuela Secundaria Oficial Jose’ Avalos, El Valle, Venezuela dan aktif dalam serikat pelajar.
Sejak kecil, Maduro sudah tertarik dengan politik sayap kiri yang terinspirasi dari ayahnya yang terlibat dalam gerakan buruh.
Setelah tamat menempuh pendidikan menengah atas, Maduro tidak menyelesaikan pendidikan tinggi.
Saat berusia 21 tahun, Maduro menjadi pengawal pribadi Jose Vicente Rangel, kandidat politik nasional sayap kiri. Kemudian, Maduro mengikuti pelatihan politik yang dikelola oleh Union of Young Communist di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, Havana, Kuba pada usia 24 tahun.
Maduro sempat bekerja sebagai sopir bus untuk perusahaan Metro Caracas yang menjadi awal mula ia membentuk dan memimpin serikat pekerja pengemudi secara tidak resmi.
Maduro juga menjadi salah satu pendiri Movement of the Fifth Republic (MVR) yang mengusung Hugo Chávez atau yang dikenal dengan Chávez pada pemilu tahun 1998.
Maduro terpilih sebagai anggota Chamber of Deputies pada tahun 1998 dan setahun kemudian menjadi anggota Majelis Konstituante.
Pada pemilu 2012, Presiden Venezuela Chávez menunjuk Maduro sebagai Wakil Presiden Venezuela. Pada 5 Maret 2013, Presiden Venezuela Chávez meninggal dan Maduro menjadi Presiden Venezuela menggantikan Chávez.
Presiden Venezuela Maduro menghadapi tantangan yang besar karena pada tahun 2013 harga minyak global mengalami kejatuhan yang menyebabkan turunnya pendapatan dan perekonomian Venezuela.
Hal tersebut menyebabkan hiperinflasi besar-besaran hingga puncaknya di tahun 2018 mencapai 929790%. Bahkan hingga kini, mata uang Venezuela, bolivar soberano masih mengalami hiperinflasi, yakni sebesar 65000%.
Sebelumnya, Venezuela memperoleh pendapatan yang cukup tinggi dari ekspor minyak.
Pemerintah mengandalkan 95% pendapatan ekspor dari sektor minyak, mengingat cadangan minyak Venezuela yang sangat melimpah.
Pada masa pemerintahan Chávez, harga minyak dunia yang melonjak naik membuat Venezuela semakin banyak memperoleh pendapatan.
Sayangnya, pada tahun 2013, harga minyak dunia turun drastis yang menjadi awal terjadinya krisis ekonomi di Venezuela pada masa pemerintahan Maduro.
Penangkapan Presiden Maduro
Pasukan elite AS di bawah perintah Presiden AS Donald John Trump menangkap Maduro dan Cilia di kediaman mereka di Caracas, Venezuela pada Sabtu (3/1).
Keduanya dibawa ke New York dengan helikopter. Pasca penangkapan Maduro dan Cilia, melansir dari Kompas.com, pemerintah Venezuela menetapkan keadaan darurat nasional untuk melindungi warga, fungsi lembaga negara, dan menolak upaya AS untuk menguasai sumber daya strategis, termasuk minyak bumi.
AS menyiapkan strategi untuk menangkap Maduro, salah satunya membangun replika rumah yang benar-benar mirip dengan rumah Maduro di Caracas. Pasukan elite AS dilatih selama berbulan-bulan untuk menangkap Maduro dengan replika rumah tersebut.
Melansir dari CNN Indonesia, saat Maduro dan Cilia tiba di New York, keduanya dikawal Drug Enforcement Administration (DEA) atau Badan Pengendalian Narkotika AS.
Kemudian, keduanya menjadi tahanan di Departemen Kehakiman AS dan akan diadili atas tuntutan terorisme narkoba dan kepemilikan senjata api. Sidang pengadilan Presiden Maduro dan istrinya masih berjalan hingga kini.
Para pendukung Presiden Maduro juga menuntut AS untuk membebaskan Maduro.
Penulis: Salwa Hunafa
Editor : Bahana.