RADAR JOGJA – Zohran Kwame Mamdani bukan hanya mencetak sejarah sebagai Muslim pertama yang menjabat sebagai Wali Kota New York, tetapi juga menjadi simbol perubahan politik yang berakar dari pengalaman hidup, aktivisme, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Baca Juga: Kontroversi Miss Universe 2025: Kontestan Walk Out Usai Miss Meksiko Dimarahi di Depan Umum
Lahir di Kampala, Uganda, dan pinda ke New York City pada usia tujuh tahun, Zohran tumbuh dalam sistem pendidikan publik kota tersebut, menempuh pendidikan di Bronx High School of Science, dan meraih gelar Sarjana Studi Afrika dari Browdoin College.
Ia resmi menjadi warga negara Amerika pada tahun 2018.
Baca Juga: Terkendala Anggaran, BPBD Bantul Baru Bisa Aktifkan 18 Pos untuk Kurangi Risiko Bencana saat Musim Hujan
Sebelum terjun ke dunia politik, Zohran sebagai konselor perumahan di Queens, membantu warga berpenghasilan rendah menghadapi ancaman penggusuran.
Penggalama berhadapan langsung dengan sistem perbankan yang lebih mementingkan laba ketimbang nasib manusia membuatnya sadar bahwa krisis perumahan bukanlah hal alami, melainkan hasil dari kebijakan pro-korporasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Kita selalu punya pilihan untuk berubah,” ujarnya dalam salah satu pidato kampanye.
Baca Juga: Sekolah Rakyat DIY Dapat Bantuan Bus Dari Pemerintah Pusat, Permudah Layanan Angkutan Siswa
Namun, dorongan politik Zohran tidak hanya lahir dari pengalaman profesional.
Sejak SMA, ia sudah aktif mengorganisasi komunitas.
Ia mendirikan tim kriket pertama di sekolahnya, sebuah langkah kecil yang mengajarkan bahwa perubahan bisa dimulai dari sekelompok orang yang sepaham.
Baca Juga: Prediksi Viktoria Plzen vs Fenerbahce Europa League Jumat 7 November Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Di kampus, ia mendirikan cabang Mahasiswa untuk Keadilan di Palestina dan aktif dalam gerakan progresif nasional yang memperjuangkan layanan kesehatan universal dan keadilan sosial.
Baca Juga: Pertama di Indonesia, Hotel di Kulon Progo Dijadikan Tempat Transit Haji, Embarkasi Haji DIY Siap Difungsikan 2026
Sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York sebelum menjabat sebagai wali kota, Zohran dikenal vokal memperjuangkan hak-hak warga Astoria, Ditmars-Steinway, dan Astoria Heights.
Ia menyoroti ketimpangan yang dialami warga, mulai dari sewa yang menghabiskan separuh pendapatan, polusi udara tertinggi di Queens, hingga diskriminasi sistemik.
“Saya ingin masa depan di mana martabat tidak ditentukan oleh pasar,” tegasnya.
Baca Juga: Bansos PIP November 2025 Segera Cair, Cek Nama Penerima dan Status Pencairan Secara Online
Zohran juga menjadi pria Asia Selatan pertama dan orang Uganda pertama yang duduk di Majelis Negara Bagian New York, serta Muslim ketiga yang pernah menjabat di badan tersebut.
Ia menyadari bahwa komunitas seperti dirinya telah lama terpinggirkan dari politik arus utama.
Baca Juga: RS Bethesda Yogyakarta Catat Lompatan Reputasi Digital, Raih Rating Google Review 4.8 Berkat Transformasi Budaya Pelayanan
“Saya bukan boneka yang bisa didandani dan diganti bajunya. Saya datang untuk menyuarakan aspirasi perempuan, anak-anak, dan semua yang berjuang demi keadilan,” ucapnya dalam wawancara.
Baca Juga: Jauh Lebih Ringan dari Tuntutan! Christiano yang Tewaskan Argo Cuma Dihukum 14 Bulan Penjara
Sebagai Wali Kota New York, Zohran membawa semangat pengorganisasian akar rumput ke pusat kekuasaan.
Ia menolak politik simbolik dan memilih jalur kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Di tengah tantangan urbanisasi, krisis iklim, dan ketimpangan sosial, kepemimpinan Zohran menjadi harapan baru bagi warga New York yang mendambakan kota yang inklusif, adil, dan manusiawi.
(Hanifah Okta)