RADAR JOGJA - Amerika Serikat telah melancarkan serangan militer langsung ke tiga fasilitas nuklir strategis milik Iran pada Sabtu dini hari waktu Teheran.
Serangan ini menjadi eskalasi terbesar di kawasan Timur Tengah sejak Perang Teluk dan menandai keterlibatan militer AS secara langsung dalam konflik yang selama ini didominasi ketegangan antara Iran dan Israel.
Menurut laporan dari Associated Press dan Reuters, serangan dimulai sekitar pukul 02.30 dini hari waktu Teheran pada 21 Juni pukul dengan sasaran tiga situs utama: Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Pentagon mengonfirmasi penggunaan pesawat siluman B-2 Spirit yang menjatuhkan enam bom bunker-buster GBU-57/MOP ke fasilitas bawah tanah Fordow.
Sementara itu, puluhan rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal selam Amerika ke arah Natanz dan Isfahan.
Dalam pidato resminya yang dilansir oleh Reuters, Presiden Donald Trump menyebut serangan ini sebagai sebuah “keberhasilan mutlak” dan menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah melumpuhkan ambisi nuklir Iran secara menyeluruh.
Dunia Bereaksi: Antara Dukungan, Kecaman, dan Seruan De-Eskalasi
Serangan ini segera memicu beragam reaksi dari komunitas internasional.
Mulai dari dukungan terbuka hingga kecaman keras, dunia menunjukkan keprihatinan yang mendalam terhadap potensi konflik besar di kawasan.
Iran
Pemerintah Iran mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menyatakan bahwa Teheran berhak untuk merespons dengan segala cara yang dianggap perlu.
Menurut laporan Al Jazeera, badan atom Iran memastikan bahwa tidak ada kebocoran radiasi dari lokasi-lokasi yang diserang, meskipun status siaga nasional telah ditingkatkan.
Israel
Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut positif langkah militer AS.
Ia menyebut serangan ini sebagai “langkah besar menuju keamanan regional”.
Israel sendiri diketahui telah melakukan serangkaian serangan terbatas terhadap Iran dalam beberapa bulan terakhir.
PBB dan Uni Eropa
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi.
Ia menyerukan penahanan diri dari semua pihak dan mengimbau agar diplomasi dikedepankan untuk mencegah konflik meluas.
Uni Eropa juga menyuarakan kekhawatiran, menyatakan bahwa serangan ini berpotensi “mendorong kawasan ke jurang perang terbuka.”
Rusia dan Tiongkok
Dalam pernyataan bersama, Rusia dan Tiongkok mengecam serangan tersebut sebagai “tindakan agresi yang melanggar hukum internasional.”
Rusia bahkan menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas dampak serangan ini terhadap stabilitas global.
Negara-Negara Teluk
Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab memilih posisi netral.
Mereka menyerukan stabilitas regional dan mendesak dialog diplomatik sebagai solusi terbaik.
Dampak Global dan Situasi Terkini
Harga minyak dunia melonjak hingga 9%, dipicu kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah yang kini berada di bawah ketegangan tinggi.
Iran meningkatkan siaga militer nasional, namun hingga Minggu pagi belum ada laporan tentang serangan balasan besar.
Sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan penerbangan dari dan ke Iran, mengantisipasi potensi situasi yang memburuk.
(Muhammad Taufik)