Militer Israel meluncurkan serangan udara di Gaza sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, pada Selasa (18/3).
Serangan ini mengakibatkan ratusan nyawa melayang dan menghancurkan gencatan senjata yang rapuh antara kedua pihak.
Pernyataan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebutkan alasan militer Israel melakukan serangan di Gaza untuk membebaskan sandera mereka, yang masih ditawan oleh Hamas.
“Membebaskan semua sandera kami, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal,” ujar mereka.
Pada konferensi pers malam sebelum penyerangan, Netanyahu memperingatkan bahwa serangan tersebut hanyalah awal dan menyatakan bahwa tujuan Israel adalah menghancurkan Hamas dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza, yang dikelola oleh Hamas, melaporkan bahwa rumah sakit di seluruh wilayah Gaza telah menerima jenazah lebih dari 404 orang, dengan lebih dari 560 orang terluka.
Pihak kementerian juga menambahkan bahwa masih banyak korban yang tertimbun reruntuhan bangunan, dan upaya penyelamatan sedang dilakukan.
Meskipun serangan tersebut bukan yang pertama selama gencatan senjata, skala serangan kali ini mengancam kelanjutan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan.
Meski begitu, baik Israel maupun Hamas belum secara tegas menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut telah berakhir.
Hamas sendiri menuduh Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
"Netanyahu dan pemerintah ekstremisnya telah memutuskan untuk membatalkan perjanjian gencatan senjata dan membiarkan nasib para sandera di Gaza terancam," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara Gaza Civil Defense, Mahmoud Basal, mengatakan pada pagi hari Selasa bahwa puluhan orang telah tewas dan terluka akibat serangan terhadap rumah-rumah warga.
“Tim kami tidak bisa menangani serangan ini karena keterbatasan sumber daya dan situasi yang berbahaya. Kami menyerukan kepada dunia untuk menghentikan agresi ini.” ujar Basal.
Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi pada pagi hari Selasa kepada warga Palestina di beberapa kawasan di Gaza utara, seperti Beit Hanoun, Khirbet Khuza’a, Abasan al-Kabira, dan al-Jadidah, yang dianggap sebagai zona pertempuran berbahaya.
Warga diminta untuk mengungsi ke tempat-tempat perlindungan yang telah diketahui di Gaza Barat dan Khan Younis.
Serangan ini menjadi serangan terbesar sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada Januari 2025, yang sebelumnya membawa jeda dalam pertempuran setelah serangan teroris yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang dan 250 orang lainnya disandera.
Sejak itu, lebih dari 48.500 orang tewas di Gaza, sementara infrastruktur di wilayah tersebut hancur total.
Penulis: Abel Alma Putri
Editor : Bahana.