Presiden Donald Trump membuat keputusan mengejutkan dengan menghentikan sebagian besar bantuan luar negeri dan membubarkan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), pada 20 Januari lalu.
Program Pangan Dunia (WFP), badan pangan utama PBB, baru-baru ini mengumumkan bahwa pemotongan ransum makanan akan diberlakukan mulai 1 April di Cox’s Bazar, Bangladesh, tempat puluhan kamp yang dihuni oleh pengungsi Rohingya.
“Kami menerima surat yang menyatakan sebelumnya mereka menerima $12,50, dan sekarang hanya $6. Mereka biasa mendapatkan $12,50 per bulan, dan mulai sekarang hanya $6. Ini sangat berdampak bagi mereka,” ujar Shamsud Douza, Komisaris Tambahan Bantuan Pengungsi dan Repatriasi Bangladesh.
Douza menambahkan, kini para pengungsi Rohingya akan mendapatkan kekurangan makanan bergizi, bahkan tekanan yang memaksa mereka harus mencari makanan dengan harga lebih murah.
“Karena makanan dikurangi, mereka akan menerima makanan yang kurang bergizi, yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Tekanan sosial dan mental akan muncul di antara orang-orang Rohingya di komunitas mereka. Mereka harus mencari alternatif makanan.”
Douza juga menyebutkan bahwa selain pemotongan ransum, anggaran untuk sektor lain juga telah dipotong.
Namun, ia tidak mengungkapkan apakah pemotongan WFP terkait dengan pengurangan dana dari AS.
"Secara umum, setelah pemotongan dana, akan ada dukungan yang lebih sedikit untuk respons terhadap pengungsi Rohingya. Respons sudah melambat, dan beberapa orang, termasuk Rohingya, kehilangan pekerjaan, serta beberapa layanan dikurangi. Ini tidak membawa hasil yang baik ketika layanan yang tersedia dikurangi,” ujarnya.
Amerika Serikat telah menjadi donor utama bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh, menyediakan bantuan pangan dan gizi darurat melalui PBB.
AS biasanya menyediakan hampir setengah dari dana yang digunakan untuk respons kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh, yang pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar $300 juta.
Ketika berita mengenai pemotongan ransum ini menyebar di kamp-kamp di Cox’s Bazar, ketakutan dan frustasi melanda para pengungsi.
Manzur Ahmed, seorang pengungsi Rohingya, mengatakan, “Saya takut sekarang bagaimana saya akan menghidupi keluarga saya, karena di sini tidak ada peluang untuk menghasilkan pendapatan. Saya sangat terkejut ketika mendengar berita ini.”
Manzur juga menambahkan, dengan pemotongan bantuan menjadi hanya $6, mereka tidak akan bisa membeli bahan pangan yang cukup.
"Bagaimana saya bisa membeli beras, cabai, garam, gula, dan dal, belum lagi ikan, daging, dan sayuran, dengan 700 taka ($6)? Kami bahkan tidak akan mampu membeli minyak goreng. Bagaimana kami bisa mendapatkannya?” ujar Manzur.
Dildar Begum, pengungsi Rohingya lainnya, juga mengeluhkan dampak pemotongan bantuan pada layanan medis.
“Ketika kami pergi ke rumah sakit, mereka tidak memberikan obat kecuali dalam keadaan darurat. Mereka hanya memberikan obat kepada pasien yang benar-benar dalam keadaan darurat. Dulu, siapa saja yang merasa tidak enak badan bisa mendapatkan perawatan, tapi sekarang hanya yang benar-benar darurat yang bisa mendapatkan pengobatan,” ungkap Dildar.
Penulis: Abel Alma Putri
Editor : Bahana.