RADAR JOGJA - Korea Selatan telah lama dikenal sebagai pusat industri hiburan dunia, dengan K-pop, drama, dan film yang mendunia.
Namun, meskipun popularitasnya terus meningkat, dunia hiburan Korea Selatan juga menghadapi isu serius yang tak dapat diabaikan: banyaknya artis yang memilih untuk mengakhiri hidup mereka.
Fenomena ini tidak hanya menyedihkan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menjadi penyebabnya.
Salah satu faktor yang sering dikaitkan adalah "cancel culture" yang semakin mendalam dalam masyarakat Korea Selatan.
Tingkat Bunuh Diri yang Tinggi di Kalangan Artis Korea Selatan
Bunuh diri di kalangan selebriti Korea Selatan menjadi perhatian publik, dengan beberapa nama besar yang tragis meninggal dengan cara tersebut.
Misalnya, artis seperti Sulli, Choi Jin-ri, Goo Hara, dan baru-baru ini Kim Saeron, terdapat dua mantan anggota grup idola K-pop yang meninggal dunia karena bunuh diri dari empat kasus tersebut.
Hal ini mengungkapkan betapa kerasnya tekanan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Banyak artis, baik yang sedang berada di puncak popularitas atau yang sudah pensiun, dilaporkan mengalami depresi dan kesulitan mental yang berat, yang sering kali tidak terdeteksi oleh publik.
Tekanan yang Berat dan Budaya Perfeksionisme
Salah satu alasan utama tingginya angka bunuh diri di kalangan artis Korea Selatan adalah budaya perfeksionisme yang sangat kuat.
Industri hiburan Korea Selatan sangat kompetitif, dan para artis dipaksa untuk memenuhi standar yang hampir tidak realistis dalam segala hal, mulai dari penampilan fisik hingga kemampuan profesional.
Masyarakat Korea Selatan, yang sangat menghargai penampilan luar dan kesempurnaan, memberikan tekanan besar pada artis untuk selalu tampil sempurna.
Selain itu, artis sering kali hidup di bawah sorotan publik yang intens.
Kehidupan pribadi mereka tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka sendiri, karena mereka terus-menerus dipantau oleh media dan penggemar.
Jika mereka melakukan kesalahan kecil atau menunjukkan sisi manusiawi mereka, mereka bisa dengan cepat dijatuhi hukuman sosial.
Cancel Culture di Korea Selatan
Cancel culture adalah fenomena di mana seseorang, terutama seorang publik figur, dihukum atau dihapus dari kehidupan publik setelah terlibat dalam sebuah kontroversi atau masalah.
Di Korea Selatan, budaya ini sangat kental, terutama di kalangan penggemar yang sering kali memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap artis idola mereka.
Cancel culture sering kali dimulai dengan pernyataan atau tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial atau moral yang berlaku.
Misalnya, selebriti yang tersangkut masalah pribadi, skandal hubungan, atau komentar yang dianggap tidak pantas bisa langsung "dihukum" oleh masyarakat.
Media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan kecaman dan menciptakan tekanan besar bagi artis.
Banyak selebriti yang dilaporkan merasa terasing dan bahkan merasa tak ada jalan keluar ketika mereka menjadi sasaran cancel culture.
Contohnya adalah kasus-kasus di mana artis K-pop dihukum hanya karena bersikap manusiawi atau tidak memenuhi ekspektasi penggemar.
Tuntutan terhadap artis untuk selalu tampil sempurna dan “tanpa cela” sering kali menjadi beban yang sangat berat.
Bahkan hal-hal yang terjadi di luar kendali mereka, seperti masalah keluarga atau pernyataan yang tidak sengaja keluar, dapat berujung pada pengucilan sosial yang ekstrem.
Tekanan ini menjadi sangat berbahaya, terutama ketika individu tersebut sudah berada dalam kondisi mental yang rapuh.
Dampak Cancel Culture terhadap Kesehatan Mental Artis
Cancel culture di Korea Selatan tidak hanya mengarah pada hilangnya pekerjaan dan reputasi, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan mental yang serius pada para artis.
Ketika seorang artis dibatalkan atau dibenci secara luas, mereka sering merasa tidak ada tempat untuk berlindung, bahkan dari orang-orang yang dulu mereka anggap sebagai teman atau penggemar.
Dalam banyak kasus, ini dapat memperburuk perasaan kesepian, kecemasan, dan depresi yang sudah mereka rasakan sebelumnya.
Untuk beberapa artis, perasaan ini dapat mencapai titik kritis yang berujung pada bunuh diri.
Sulli dan Hara adalah contoh tragis dari bagaimana tekanan mental dan sosial yang datang dengan industri hiburan, ditambah dengan efek dari cancel culture, dapat menyebabkan seseorang merasa bahwa mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Keputusan untuk mengakhiri hidup sering kali datang setelah bertahun-tahun berjuang dengan masalah kesehatan mental, yang banyak dari mereka rasa tidak bisa dibicarakan secara terbuka karena stigma.
Tanggapan terhadap isu ini membutuhkan pendekatan yang lebih mendalam.
Salah satu solusi yang penting adalah meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental di Korea Selatan, baik di kalangan publik maupun di industri hiburan itu sendiri.
Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap masalah ini, beberapa agensi hiburan mulai mengambil langkah-langkah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mental para artis mereka.
Namun, ini masih menjadi pekerjaan besar yang memerlukan perubahan budaya yang lebih luas.
Masyarakat juga perlu lebih peka terhadap dampak dari cancel culture dan mulai membangun ruang yang lebih mendukung dan empatik bagi artis untuk bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa takut dihakimi atau dihukum secara sosial.
Salah satu perubahan yang sangat diperlukan adalah mengurangi tuntutan kesempurnaan dan memberikan lebih banyak ruang bagi selebriti untuk tumbuh, berbuat salah, dan belajar tanpa harus menghadapi hukuman sosial yang tidak masuk akal.
Untuk mencegah kejadian-kejadian tragis seperti ini, diperlukan perubahan dalam cara masyarakat memperlakukan artis dan perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental mereka. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva