RADAR JOGJA - Tragedi jatuhnya pesawat Azerbaijan Airlines jenis Embraer 190 pada Rabu (25/12/2024) di dekat Kota Aktau, Azerbaijan, kembali menyeret nama Rusia ke dalam dugaan penggunaan rudal permukaan-ke-udara terhadap penerbangan sipil.
Hasil penyelidikan awal yang bocor ke media menyebutkan, rudal milik Rusia kemungkinan besar menjadi penyebab utama kecelakaan tersebut.
Seperti dikutip dari Euronews, pejabat pemerintah Azerbaijan menyatakan bahwa bukti awal mengarah pada keterlibatan teknologi militer Rusia dalam insiden yang menewaskan seluruh penumpang itu.
Jika dugaan ini benar, maka insiden ini menambah daftar panjang insiden penerbangan sipil yang melibatkan rudal Rusia, termasuk peristiwa jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 pada 2014.
Pada 17 Juli 2014, pesawat Boeing 777 MH17 milik Malaysia Airlines ditembak jatuh di wilayah udara Ukraina Timur saat melintasi zona konflik.
Seluruh 298 penumpang tewas di tempat, termasuk 193 warga negara Belanda.
Insiden itu menyulut kecaman global setelah investigasi menyebut rudal Buk milik militer Rusia digunakan oleh kelompok separatis Ukraina yang berafiliasi dengan Rusia untuk menjatuhkan pesawat tersebut.
Namun, Rusia saat itu bersikeras menolak tuduhan tersebut dan menyalahkan kelompok separatis Ukraina.
Sementara itu, pihak separatis juga balik menuding militer Rusia sebagai dalang di balik insiden MH17.
Perdebatan ini berlangsung selama bertahun-tahun hingga pada 2019, jaksa Belanda akhirnya menetapkan empat tersangka, termasuk tiga mantan anggota angkatan bersenjata Rusia.
Kini, insiden Azerbaijan Airlines menambah ketegangan baru di tengah hubungan Rusia dengan dunia internasional.
Jika terbukti rudal Rusia terlibat, kasus ini dapat memperburuk reputasi Rusia yang sudah tercoreng akibat keterlibatannya dalam konflik geopolitik dan insiden serupa.
Hingga saat ini, otoritas penerbangan Azerbaijan dan penyelidik internasional masih bekerja untuk memastikan penyebab pasti jatuhnya pesawat di dekat Kota Aktau tersebut.
Editor : Winda Atika Ira Puspita