RADAR JOGJA - Perdana Menteri (PM) Lebanon Najib Mikati menyebut, sekitar satu juta orang telah mengungsi akibat serangan bertubi-tubi Israel sejak pekan lalu.
Gelombang pengungsian ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Lebanon.
Melansir Aljazeera, serangan udara Israel yang terjadi pada Jumat (27/9/2024) lalu menewaskan 33 orang dan melukai 195 lainnya hanya dalam waktu 24 jam.
Di antara korban tewas adalah pemimpin milisi Hizbullah Hassan Nasrallah, yang menjadi sasaran serangan di Beirut selatan.
Menurut Mikati, ancaman yang dihadapi Lebanon saat ini begitu serius, dan ia menekankan prioritas utama negara adalah menghentikan agresi Israel melalui jalur diplomasi.
Mikati juga menekankan bahwa Lebanon tidak memiliki pilihan lain selain mengupayakan diplomasi yang berkelanjutan.
Hal ini disampaikan dalam konferensi pers setelah pertemuan komite darurat pemerintah di Beirut pada Minggu (29/9/2024).
Israel terus meningkatkan serangannya di Lebanon, dengan serangan udara besar-besaran yang menewaskan sejumlah komandan senior Hizbullah, termasuk Nasrallah.
Serangan yang terjadi pada Jumat (27/9/3034) lalu tersebut berlanjut keesokan harinya, menyasar berbagai lokasi di Lebanon.
Sementara itu, Komisaris Tinggi UNHCR Filippo Grandi menyampaikan melalui media sosial X bahwa banyak pengungsi Lebanon yang terpaksa melarikan diri ke Suriah untuk menghindari serangan Israel.
Salah satu pengungsi Fatima Chahine, yang sebelumnya melarikan diri dari Suriah pada 2011, kembali harus mengungsi bersama keluarganya di tenda pengungsian Ramlet al-Bayda di Beirut.
“Kami hanya menginginkan tempat yang aman bagi anak-anak kami. Kami sudah mengungsi dari Suriah demi keselamatan mereka, tapi sekarang hal yang sama terjadi lagi di sini,” ujar Fatima.
Pertempuran lintas batas antara Hizbullah dan Israel semakin memanas sejak dimulainya serangan Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 41.600 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, setelah serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober lalu.
Di markas PBB, juru bicara Stephane Dujarric menyampaikan kekhawatiran mendalam atas eskalasi situasi di Lebanon.
Dujarric juga mengingatkan kembali pentingnya resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang menyerukan penghentian total permusuhan di Lebanon serta deeskalasi segera di wilayah perbatasan Blue Line.
Resolusi yang disahkan pada 11 Agustus 2006 itu juga menetapkan zona bebas dari personel bersenjata di Lebanon selatan, kecuali tentara Lebanon dan pasukan UNIFIL, untuk memulihkan stabilitas di kawasan tersebut.
Editor : Winda Atika Ira Puspita