Pasien meninggal di dalam ambulans setelah mengalami serangan jantung.
Sebanyak 70 persen dokter telah melakukan pemogokan kerja selama seminggu terakhir untuk memprotes rencana melatih lebih banyak dokter.
Hal tersebut membuat ruang gawat darurat dibawah tekanan dan pemerintah menuduh para dokter telah mempertaruhkan kesehatan masyarakat.
Paramedis di Kota Daejon telah menelpon sekitar tujuh rumah sakit untuk mengambil pasien wanita tersebut, namun ditolak karena kurangnya staf dan tempat tidur.
Ia akhirnya dirawat dirumah sakit salah satu universitas setelah dia pertama kali meminta bantuan, namun dinyatakan meninggal pada saat kedatangannya.
Pada hari Selasa, pejabat pemerintah mengatakan bahwa mereka akan menyelidiki kasus tersebut, yang telah diberitakan secara luas di media Korea Selatan.
Hal tersebut diyakini sebagai kematian pertama karena adanya pemogokan dokter, dimana mereka memprotes rencana pemerintah untuk menambah lebih banyak dokter karena ketakutan akan persaingan.
Lebih dari 9.000 dokter menolak masuk kerja, sementara sekitar 10.000 orang telah mengajukan pengunduran diri dari ratusan rumah sakit di sseluruh negeri.
Protes telah meningkat menjadi ketegangan politik, dan para pejabat mengancam akan mengambil tindakan hukum.
Pada hari Selasa, pemerintah mengancam akan melaksanakan kewenangan hukum untuk mencabut izin praktik dokter jika mereka tidak kembali pada akhir bulan.
Presiden Yoon Suk-Yeol telah menolak tuntutan dokter membatalkan kebijakannya untuk meningkatkan jumlah lulusan sebesar 60 persen, dengan mengatakan bahwa negara tersebut perlu mengatasi kekurangan dokter karena menghadapi tantangan populasi yang cepat.
Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan rasio dokter per pasien terendah diantara kelompok negara-negara OECD. Hanya 2,5 per 1.000 orang dan terdapat kekurangan yang signifikan dalam praktik penting seperti kebidanan dan pediatri.
Karena sistem layanan kesehatan Korea Selatan dangat diprivatisasi, lebih dari 90% rumah sakit membayar biaya. Medis enggan membuka diri terhadap lebih banyak persaingan dan potensi hilangnya pendapatan
Editor : Bahana.