Insiden tersebut diduga terjadi di Singapore Airshow, salah satu pameran penerbangan komersial dan militer terbesar di kawasan tersebut.
Hal tersebut membuat viral di media sosial China dan memicu kontroversi.
Pejabat Jerman saat ini masih belum memberikan komentar. Airbus mengatakan pihaknya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Pada salah satu video yang beredar luas yang direkam oleh seorang blogger asal China.
Seorang wanita mengenakkan tanda pengenal Airbus terlihat bertanya mengenai kewarganegaraannya.
Pria tersebut berusaha memasuki pesawat Airbus A400M milik angkatan udara Jerman, Lutwaffe.
Wanita itu mengatakan kepadanya bahwa dia perlu memeriksa kewarganegarannya “karena itu adalah pesawat Jerman”.
Saat lelaki itu mengatakan bahwa ia adalah orang China, petugas langsung melarang dia masuk dengan mengatakan “Itu peraturan Jerman, itu pembatasan militer”.
Pengunjung China lainnya juga mengklaim secara online bahwa mereka tidak diizinkan naik pesawat.
Blogger lain juga mengklaim secara online bahwa mereka tidak diizinkan naik pesawat.
Ia mengatakan bahwa dia diusir oleh staff militer Jerman dan dia telah mengajukan keluhan resmi kepada penyelenggara pertunjukkan udara dengan tuduhan diskriminasi terhadap orang China.
Perwakilan kedutaan Jerman tidak menanggapi pertanyaan dari wartawan tentang tuduhan terhadap staff militer Jerman.
“Kami segera berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pelanggan dan tim Airbus kami di pameran untuk memastikan bahwa pesawat terbuka untuk semua pengunjung selama sisa pertunjukkan dirgantara. Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” kata produsen pesawat Eropa.
Pada akun media sosialnya Weibo, Airbus memposting permintaan maaf yang serupa.
Airbus menyebutkan bahwa A400M sebagai pesawat angkut militer “airlifter” tercanggih yang pernah ada.
Pesawat ini dapat mengirimkan pasukan ke landasan udara kecil yang tidak siap di medan perang serta mengirim peralatan besar ke pangkalan, dan juga bertindak sebagai tanker pengisian bahan bakar di udara.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran Eropa terhadap akses negara China terhadap teknologi militer Barat.