RADAR JOGJA - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, memicu perhatian luas dari berbagai kalangan.
Peristiwa yang menyebabkan luka bakar sekitar 24 persen di tubuh korban itu tidak hanya menjadi sorotan publik, tetapi juga memunculkan kekhawatiran tentang kondisi demokrasi dan keamanan bagi para aktivis di Indonesia.
Sejumlah tokoh turut menanggapi insiden tersebut, termasuk pengamat politik Rocky Gerung.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar melalui video diskusi publik yang diunggah di kanal youtube milik Rocky Gerung (@Rockygerungofficial).
Rocky menilai serangan terhadap Andrie tidak bisa dilihat sekadar sebagai peristiwa kriminal biasa.
Ia menilai ada kemungkinan serangan tersebut berkaitan dengan aktivitas Andrie sebagai aktivis yang kerap mengkritik kebijakan negara.
“Kalau air keras itu disiramkan pada Andrie, itu artinya ada upaya untuk membungkam suara kritis dari masyarakat sipil,” ungkap Rocky Gerung, dilansir dari kanal youtube pribadinya.
Menurutnya, Andrie bukan sekadar individu biasa, melainkan bagian dari gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia.
Karena itu, serangan terhadapnya dinilai dapat menjadi ancaman bagi ruang kritik di masyarakat.
“Andrie bukan seseorang yang individual, dia bagian dari perjuangan politik, perjuangan demokrasi, LSM Indonesia,” tambahnya.
Rocky juga menilai kasus tersebut menjadi ujian bagi pemerintah dalam memastikan perlindungan terhadap para aktivis dan pejuang hak asasi manusia.
Ia menilai peristiwa ini berpotensi memengaruhi persepsi internasional terhadap kondisi demokrasi di Indonesia.
Dalam pernyataannya, Rocky juga menyebut bahwa ini ujian Presiden Prabowo, sebab, rating Indonesia bisa saja turun jika dianggap para pejuang demokrasi tidak terlindungi.
Ia juga mengingatkan bahwa serangan terhadap aktivis pernah terjadi sebelumnya dan menjadi catatan kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Rocky menyinggung beberapa kasus yang hingga kini masih membekas dalam ingatan publik.
“Ada Novel Baswedan yang disiram air keras, ada Munir yang tewas di atas pesawat. Semua itu adalah blind spot dari demokrasi,” bebernya.
Lebih jauh, Rocky menilai insiden yang menimpa Andrie Yunus bisa menjadi sinyal adanya kegelisahan politik yang lebih luas.
Ia bahkan menyebut kondisi tersebut berpotensi menciptakan suasana ketakutan di tengah masyarakat sipil.
Ia mengatakan, “Kita mulai melihat bahwa Indonesia seperti berada dalam ‘the republic of fear’, republik yang penuh ketakutan.”
Karena itu, Rocky mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut.
Menurutnya, pengusutan yang transparan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi dan perlindungan terhadap para aktivis.
Bagi banyak kalangan masyarakat sipil, penyelesaian kasus ini tidak hanya menyangkut keadilan bagi korban, tetapi juga menjadi ujian penting bagi komitmen negara dalam melindungi kebebasan berpendapat dan perjuangan hak asasi manusia di Indonesia. (Lintang Perdana Shynatrya)
Editor : Meitika Candra Lantiva