Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Polresta Jogja Endus Pola Mafia dalam Pelarian Geng Pelajar ke Cilacap Jawa Tengah, Begini Penjelasannya

Iwan Nurwanto • Rabu, 27 Mei 2026 | 18:49 WIB
CAPTION: Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian saat ditemui, Selasa (26/5/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA
CAPTION: Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian saat ditemui, Selasa (26/5/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA

JOGJA - Polresta Jogja sampai saat ini masih mendalami pola pergerakan geng pelajar dalam kasus pembacokan Adelio Alvis Adhi Wijaya di Kotabaru yang berkaitan erat dengan pembunuhan Ilham Dwi Saputra di Bantul. Dalam penyelidikan awal, polisi mengendus adanya pola mafia di dua kasus tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengatakan, pola teroganisasi dan sistematis bak mafia itu kemungkinan diterapkan dalam proses pelarian para pelaku ke Cilacap, Jawa Tengah. Mereka diduga memanfaatkan jaringan dari salah satu pelaku berinisial SR.

Menurutnya, sampai saat ini polisi masih melakukan pengejaran terhadap SR. Sekaligus mendalami motif SR yang dengan sukarela membiayai pelarian para pelaku. Mulai dari sewa mobil, konsumsi selama pelarian, hingga bahan bakar kendaraan yang nilainya ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Baca Juga: Terkait Kasus Dugaan Pemalsuan Riset, UNY Cari Tiga Alumninya

“Kami masih dalami uang itu dari mana. Apakah mereka iuran bulanan atau ada pola pemerasan bagi anggota yang ingin keluar dari geng,” ujar Riski saat ditemui di Polresta Jogja, Selasa (26/5/2026).

Perwira polisi dengan satu bunga melati di pundak itu mengungkap, berdasar pemeriksaan anggota keluarga SR. Pelaku tersebut sudah berusia dewasa dan tidak memiliki pekerjaan. Sehingga sumber biaya pelarian pun sampai saat ini masih dipertanyakan.

Berdasarkan kasus-kasus yang sudah ditangani, Riski menyebut pola keanggotaan geng biasanya memiliki syarat khusus. Misal harus menyetorkan uang atau berkelahi jika ingin keluar dari keanggotaan geng. Itu merujuk pada kasus gladiatoran beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Dua Dekade Pascagempa Bantul, Bupati Sebut Potensi Bencana Tak Bisa Dihilangkan tapi Risiko Bisa Dikurangi

Mantan Kasat Reskrim Polresta Sleman itu mengaku juga sedang mendalami keterlibatan pemilik safe house di Cilacap. Menurutnya, tempat tersebut memang sering menjadi pusat berkumpulnya anak remaja dari berbagai latar belakang. Baik itu geng pelajar maupun geng motor.

Berdasarkan keterangan kepolisian setempat, pemilik safe house juga sering membuat keributan dan berkonflik dengan warga. Lantaran aktivitas anak-anak yang bersembunyi di tempat tersebut kerap mengganggu ketertiban.

“Kasus keributan yang melibatkan tempat itu sudah diselesaikan sampai lima kali oleh polsek. Warga sudah sering menegur, tapi tetap saja berlanjut,”  jelas Riski.

Baca Juga: Sapi Kurban Bantuan Presiden RI Prabowo Disembelih Sasar 600 KK di Enam Padukuhan Kulon Progo

Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengaku sudah mengantongi dua nama geng pelajar yang sampai saat ini masih aktif melakukan rekrutmen anggota baru. Namun nama dua geng pelajar tersebut masih dirahasiakan demi penanganan di lapangan.

Hasto menyebut aktifnya geng pelajar di Kota Jogja disebabkan pengaruh dari alumni yang terus mendorong untuk melakukan regenerasi. Geng tersebut memiliki latar belakang dari sekolah jenjang atas seperti SMA atau SMK. 

Sehingga langkah yang dilakukan pemkot saat ini dengan mencegah agar pelajar SMP tidak berafiliasi atau bergabung dengan geng ketika lulus.

Hasto menilai, intervensi sejak dini merupakan cara paling efektif untuk memutus rantai regenerasi geng yang kerap berujung pada aksi kriminalitas. “Saya kira SLTP ini tempat strategis untuk mencegah,” katanya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Cilacap Jawa Tengah #geng pelajar #Polresta Jogja #mafia #safe house