BANTUL – Nasib tragis menimpa Ilham Dwi Saputra, 16, pelajar asal Payungan, Ciren, Triharjo, Pandak.
Ia meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal di Lapangan Gadung Mlaten, Caturharjo, Pandak, Selasa (14/4/2026) malam.
Sempat menjalani perawatan selama dua hari, korban akhirnya mengembuskan napas terakhir Minggu (19/4/2026), akibat luka parah setelah dipukuli beramai-ramai hingga dilindas sepeda motor.
Baca Juga: Harga Aspal Melejit, DPUPKP Kota Jogja Tunda Proyek Perbaikan Jalan: Cek Lokasinya di Sini
Ayah korban Sugeng Riyanto, 53, mengatakan, dugaan pengeroyokan pertama kali diketahui oleh tetangganya.
Sebab, Ilham sekitar pukul 21.00 diketahui masih berada di rumah bermain bersama keponakannya.
Lalu sekitar pukul 21.30, seorang teman menjemput Ilham menggunakan sepeda motor Nmax.
Saat itu Sugeng sudah tidur, sementara istri dan kakak ipar Ilham masih belum tidur.
“Itu yang tahu malah tetangga, terus di bawa ke belakang SMA 1 Bambanglipuro, di sana juga ada temannya,” katanya saat ditemui di rumah duka Senin (20/4/2026).
Setibanya di SMA N 1 Bambanglipuro, Ilham dijemput dua orang berboncengan menggunakan sepeda motor Scoopy berwarna hitam dan merah.
“Terus temannya anak saya yang di situ kakak kelasnya, merasa curiga, kok mau di bawa ke mana,” ujar dia.
Teman Ilham kemudian membuntuti dan mengetahui bahwa korban dibawa ke Lapangan Gadung Mlaten.
Di lokasi tersebut, Ilham sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia diminta duduk dan diinterogasi oleh sekelompok orang tersebut.
“Ditanya apa kamu ikut geng itu, dia (anaknya, Red) menjawab ‘tidak’ karena memang dia tidak ikut geng,” jelas dia saat menceritakan.
Korban kemudian dipukul secara beramai-ramai. Pelaku menggunakan berbagai benda seperti selang, paralon, gunting, bahkan rokok. Ilham juga sempat dilindas dengan sepeda motor berulang kali.
“Pada akhirnya saat tidak sadar bahkan mau dipotong telinganya,” tuturnya.
Untungnya upaya memotong telinga korban, berhasil digagalkan oleh temannya yang membuntuti, yang merasa khawatir dan mengambil paksa gunting tersebut.
Baca Juga: Mahasiswa Jadi Korban Begal Payudara di Trirenggo, Bantul, Pelaku Belum Ditemukan
Setelah korban tidak sadarkan diri, ia langsung dibawa ke RSUD Saras Adyatma oleh temannya.
Ilham dirawat selama dua hari dengan biaya sekitar Rp 10 juta per hari, namun kondisinya tidak menunjukkan perkembangan.
Karena kondisi tak kunjung membaik, keluarga memindahkan Ilham ke PKU Jogja pada malam Jumat.
Hingga akhirnya, Minggu (19/4/2026) pukul 21.30, korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah di bagian kepala.
Baca Juga: Imbas Efisiensi Anggaran, Pengadaan Instalasi Hidran Kering dan Selang Pemadam Terkendala
“Itu pun mau di operasi akhirnya berat kata dokter, karena benar-benar lukanya parah bengkak pada kepala,” beber dia.
Sugeng menyebut, sejak kejadian hingga meninggal dunia, Ilham belum sempat sadar.
Ia juga mengaku dalam enam bulan terakhir, anaknya sudah jarang keluar malam. Sugeng kerap mengingatkan Ilham melalui pesan WhatsApp dan telepon agar tidak pulang melebihi pukul 21.00.
"Jadi ya kalau masalah di luar saya kurang tau, akan tetapi memang akhir-akhir ini anak saya jarang keluar malam," sambungnya.
Baca Juga: Perpustakaan Keliling di Sleman Tak Bisa Berjalan Optimal karena Hanya Miliki Tiga Armada
Ia berharap pihak kepolisian dapat menangkap para pelaku dan memprosesnya secara hukum.
"Ini dianiaya bahkan melebihi penganiayaan dulu ketika PKI (Pantai Komunis Indonesia) seperti itu membuat saya merasa sakit," tandasnya.
Pantauan Radar Jogja di rumah duka, teman kelas dan guru dari SMAN N 1 Bambanglipuro silih berganti menyalatkan jenazah Ilham. Terdapat pula karangan bunga di rumah duka.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan Reskrim untuk mengusut kasus ini. "Mohon waktu," ucapnya singkat. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita