Kelompok bersenjata tersebut melakukan penyerbuan ke dalam stasiun televisi saat sedang siaran.
Dilansir dari media Ekuador TeleAmazonas, kelompok bersenjata itu masuk ke studio pada saat televisi itu sedang melakukan siaran langsung acara Después De El Noticiero (Acara Sesudah Berita).
Mereka langsung menodongkan senjata pada pembawa acara dan kru yang saat itu tengah bertugas di hadapan kamera yang masih menyala.
Para geng bersenjata tersebut juga sempat meminta kepada kru di bagian kamera untuk memasangkan mikrofon dan sempat juga melepaskan tembakan peringatan beberapa kali.
Para Geng bersenjata tersebut juga sempat memamerkan ke depan kamera beberapa bahan peledak yang mereka miliki.
Dilansir dari NPR, Alina Manrique, Kepala Penyiaran Berita TC Television menyebut bahwa para kelompok bersenjata itu sempat menodongkan senjata api ke arah kepalanya.
“Aku tengah berada di control room, tiba-tiba seorang dari mereka langsung masuk dan menyerbu ruang siaran yang tepat berada di seberang ruanganku,” ujarnya.
Kepolisian Ekuador langsung memberikan peringatan melalui laman X resmi milik mereka (@PoliciaEcuador).
“Perhatian, beberapa orang kriminal telah merangsek masuk ke sebuah kantor berita di wilayah Guayaquil,” tulis mereka.
Selain itu mereka juga menyebut telah meluncurkan pasukan khusus untuk melakukan penangkapan.
Kiriman tersebut diunggah pada Rabu (10/1) pukul 2.39 dini hari Waktu Indonesia Barat (WIB).
Tiga jam kemudian, salah satu komandan tertinggi kepolisian Ekuador yakni César Augusto Zapata Correa memberikan berita terbaru terkait penyerbuan tersebut.
Dalam unggahan di akun media sosial X (@CmdtPoliciaEc), dia menyatakan bahwa beberapa anggota kelompok bersenjata tersebut berhasil ditangkap oleh kepolisian.
Selain itu, mereka berhasil mengambil sejumlah senjata api, bahan peledak, dan barang bukti lainnya dari lokasi kejadian.
"Kami juga berhasil membebaskan seluruh pekerja dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman," katanya.
Selain itu, ia menekankan dalam postingan bahwa kepolisian Ekuador tidak mentolerir kejadian kriminal yang membahayakan publik.
Dalam unggahan tersebut, César Augusto Zapata Correa menyatakan, 58 ribu anggota siap melindungi negara meski nyawa yang menjadi taruhannya. (Renal Fabriansyah/Radar Jogja)
Editor : Bahana.