Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Sleman Tengah Dwi Rahmawati membenarkan bahwa Sweetha adalah anggotanya. Secara resmi bergabung baru Oktober 2021. Dalam kesehariannya, ibu dua anak ini akrab disapa Tata.
"Kami benar-benar shock mendengar berita itu. Awalnya tidak percaya tapi kalau melihat ciri-ciri memang mengarah ke sosok Tata," jelas Dwi dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (17/3).
Untuk konfirmasi, pihaknya belum bisa menghubungi pihak keluarga. Ini karena keluarga intinya berada di Lampung. Sehingga informasi yang dia dapatkan dari keterangan sejawat dan berita media massa.
Disinggung tentang kerangka anak kecil, Dwi belum bisa menjawab banyak. Penyidik Polrestabes Semarang menemukan adanya serpihan kerangka anak kecil. Lokasinya tidak jauh dari penemuan jenasah Tata.
"Semuanya mengarah ke sana (Tata). Untuk kerangka anak pastinya kita juga belum tahu secara pasti. Kita benar-benar menunggu kepolisian," katanya.
Dwi mengenal Tata sebagai sosok orangtua tunggal. Status ini juga terlaporkan saat mendaftar sebagai anggota IBI Ranting Sleman Tengah. Tertulis bahwa Tata adalah ibu dari dua orang anak.
Pertemuan terakhir dengan Tata berlangsung 24 Februari 2022. Saat itu Tata bertugas sebagai tim vaksinator bantuan. Meski tak lama, Dwi mengenal Tata sebagai sosok yang supel dan ramah.
"Saya pribadi itu ketemu terakhir 24 Februari saat vaksin masal di puskemas kami. Kemudian ada bantuan vaksinator dari TIM IBI nah di situ Mbak Tata ikut," ujarnya.
Atas kasus ini, Dwi berharap tersangka dijerat pasal yang setimpal. Ini karena tindakan sudah mengarah pada pembunuhan. Ditambah lagi korbannya juga salah satu anak dari Tata.
"Ya harapannya dari IBI sendiri semoga kasus ini diusut secara tuntas. Pelakunya itu diberikan hukuman yang sesuai begitu. Kasus dibuka seterang mungkin dan sejelas mungkin," tegasnya.
Sebelumnya Polresta Semarang menemukan jenasah Tata di ruas jembatan tol Semarang-Bawen KM 425, Minggu (13/3). Sementara jenasah anaknya ditemukan di KM 426, Rabu (17/3). Jarak penemuan antara mayat Tata dan tengkorak anak kecil berjarak sekitar 1 kilometer.
Kondisi jenasah Tata ditemukan dalam kondisi terbungkus sarung. Sementara jenasah sang anak berupa tengkorak dan tulang belulang. Dari kondisi ini diperkirakan telah meninggal dunia 2 pekan sebelum penemuan.
Kapolsek Mlati Kompol Andhies Fitriya Utomo menuturkan sempat dihubungi Polrestabes Semarang. Guna memastikan identitas dan alamat Tata. Hingga akhirnya melakukan kroscek kepada salah satu anggota keluarga.
"Pas waktu dishare Poltabes Semarang kok ciri-cirinya sama, akhirnya orang tuanya ke sini. Dia kan lost contact sama anaknya terus habis itu kita koordinasi dengan (Polda) Jateng untuk menanyakan ciri-ciri ada kemiripan akhirnya kita arahkan untuk ke Polda Jateng," ujarnya.
Andhies memastikan belum ada laporan orang hilang di wilayahnya. Kediaman Tata di Kapanewon Mlati tak jauh dari Mapolsek Mlati. Walau begitu, dia memastikan seluruh penanganan menjadi wewenang Polda Jateng.
"Kita cuma bantu untuk kelengkapan ciri-cirinya itu. Ternyata tanda-tandanya banyak yang mirip akhrinya langsung kita sampaikan biar merapat ke Semarang," katanya. (Dwi) Editor : Editor News