GUNUNGKIDUL - Sebelum memimpin Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul, Agus Hartanto terbiasa menyusuri kampung dan mendatangi rumah warga untuk melakukan survei. Berhadapan dengan beragam karakter masyarakat, termasuk menghadapi penolakan, menjadi bagian dari kesehariannya saat masih menjadi surveyor.
Pengalaman itu bukan sekadar pekerjaan. Bagi Agus, turun langsung ke lapangan menjadi cara untuk memahami masyarakat sekaligus bekal dalam meniti karier di dunia statistik.
“Ke lapangan itu makanan sehari-hari, ke kampung-kampung, rumah-rumah,” tuturnya.
Baca Juga: PSIM vs Persija Digelar di SSA, 900 Personel Polisi Disiagakan, Suporter Diimbau Tak Terprovokasi
Lahir pada 1976, perjalanan Agus menuju posisi saat ini tidak berlangsung dalam semalam. Ada proses panjang yang ia jalani, mulai dari bangku kuliah, bekerja sebagai surveyor, mengajar, hingga bergabung dengan BPS dan dipercaya memimpin sejumlah kantor di daerah.
Agus mengawali pendidikan tinggi di Universitas Tanjungpura, Pontianak dengan mengambil program studi Ekonomi Studi Pembangunan. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi magister melalui program double degree di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Erasmus University Rotterdam, Belanda.
Di tengah pendidikan, Agus terbiasa membagi waktu antara belajar dan bekerja. Salah satunya dengan menjadi surveyor. Pekerjaan itu mempertemukannya dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan mengajarkannya bahwa mengumpulkan data tidak selalu mudah.
Baca Juga: Padat Karya Kabupaten Bantul Sasar 302 Lokasi, 3.224 Pekerja Terlibat di 124 Titik
Penolakan, misalnya, menjadi tantangan yang kerap ditemui ketika mendatangi rumah warga. Surveyor tidak cukup hanya membawa pertanyaan, tetapi juga harus mampu menjelaskan maksud kedatangannya agar masyarakat bersedia memberikan informasi.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar Agus. Ia memahami bahwa pekerjaan statistik tidak hanya berkaitan dengan angka dan tabel, tetapi juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi serta membangun kepercayaan.
Sebelum berkarier di BPS, Agus sempat mengajar dan bekerja di lembaga survei. Pengalaman itu kemudian mengantarkannya menekuni bidang statistik secara lebih jauh hingga memulai karier di BPS Kalimantan Barat.
Seiring waktu, tanggung jawabnya bertambah. Agus mendapat kesempatan memimpin kantor BPS di sejumlah kabupaten. Gunungkidul menjadi daerah keempat yang ia pimpin sebagai kepala kantor.
Jika sebelumnya tiga kantor yang dipimpinnya berada di Kalimantan Barat, penugasan di Gunungkidul menghadirkan tantangan berbeda. Menurut dia, beban pekerjaan di Gunungkidul lebih banyak berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan mitra statistik.
“Bebannya sih berat di sini karena ngurusin SDM dan mitra statistik yang lebih banyak. Kalau sana kan besar wilayahnya saja,” ujarnya.
Perbedaan karakter wilayah dan tanggung jawab itu menuntut kemampuan untuk terus menyesuaikan diri. Pengalaman panjang yang dimiliki menjadi bekal, tetapi bukan alasan untuk berhenti belajar.
Bagi Agus, pendidikan dan pekerjaan bukan dua hal yang harus dipilih salah satunya. Keduanya bisa berjalan beriringan selama ada kemauan dan kesempatan. Prinsip tersebut ia pegang sejak menempuh pendidikan hingga menjalani karier profesional.
“Termasuk beasiswa itu, saya usahakan sambil kerja sambil belajar. Alhamdulillah diberikan kesempatan,” katanya.
Perjalanan Agus menunjukkan bahwa karier tidak selalu dibangun melalui lompatan besar. Ada pengalaman-pengalaman kecil yang membentuk kemampuan seseorang, mulai dari menghadapi penolakan saat survei, memahami karakter masyarakat, hingga belajar mengelola tanggung jawab yang semakin besar. (zik/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita