Kekeringan Berbulan-bulan, Petani Gunungkidul Kumpulkan Daun Kering untuk Pupuk

Dzika Fajar • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:34 WIB
MENANTI HUJAN: Wartini mengumpulkan daun kering yang akan digunakan sebagai bahan pupuk kompos di lahan pertaniannya, Kalurahan Kampung, Ngawen, Gunungkidul. Kekeringan membuat aktivitas bercocok tanam terhenti selama lebih dari tiga bulan. (Dzika Fajar/Radar Jogja)
MENANTI HUJAN: Wartini mengumpulkan daun kering yang akan digunakan sebagai bahan pupuk kompos di lahan pertaniannya, Kalurahan Kampung, Ngawen, Gunungkidul. Kekeringan membuat aktivitas bercocok tanam terhenti selama lebih dari tiga bulan. (Dzika Fajar/Radar Jogja)
 
GUNUNGKIDUL – Kekeringan yang berkepanjangan membuat aktivitas pertanian di sejumlah wilayah Gunungkidul terhenti. Minimnya pasokan air membuat petani kesulitan kembali menanam. Sebagian dari mereka kini memilih mempersiapkan lahan sembari mengumpulkan bahan untuk membuat pupuk kompos.

Salah satunya dilakukan Wartini, petani di Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen. Selama lebih dari tiga bulan, lahan miliknya tidak lagi ditanami karena kondisi air yang tidak memungkinkan.

“Sejak Mei atau Juni. Terakhir itu setelah panen kacang,” kata Wartini saat ditemui Radar Jogja, Kamis (1/10).

Kondisi tersebut terasa ironis lantaran lahan pertaniannya hanya berjarak sekitar 10 meter dari aliran sungai. Namun, sungai yang sebelumnya menjadi salah satu sumber air untuk bercocok tanam kini ikut mengering.

Menurut Wartini, kesulitan air sebenarnya sudah dirasakan sejak debit sungai mulai menurun. Ketika air masih tersedia dalam jumlah terbatas, para petani harus bergantian dan berebut untuk mendapatkan pasokan.

Baca Juga: DPR Sahkan Komjen Pol Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri Baru, Dilantik Presiden Usai Zuhur

“Kemarin waktu airnya tinggal sedikit, rebutan. Yang dapat ya yang punya genset untuk menyedot air,” ungkapnya.

Membuat sumur bor juga bukan solusi yang mudah. Kondisi geografis di wilayah tersebut membuat sumur harus dibuat cukup dalam sebelum bisa menemukan sumber air.

“Di sini paling tidak 80 meter baru keluar airnya,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, Wartini memilih tetap melakukan aktivitas yang bisa dikerjakan. Lahan dibersihkan, sementara daun-daun kering dikumpulkan untuk dijadikan bahan pupuk kompos.

Bahan tersebut nantinya akan diolah bersama kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Pembuatan kompos dilakukan sebagai bagian dari persiapan sebelum musim hujan tiba dan aktivitas tanam kembali memungkinkan.

Wartini mengaku pilihan petani sangat terbatas ketika sumber air menghilang. Membeli air untuk mengairi tanaman juga dinilai tidak ekonomis karena biaya yang dikeluarkan berpotensi lebih besar dibanding hasil panen.

“Kalau dipaksakan beli air ya pasti tekor, Mas,” keluhnya.

Baca Juga: Lima Laga Sengit Hari Ini, Warnai Perburuan Kemenangan Kamis 1 Oktober 2026 di GOR UNY

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, keberadaan sumur bor di kalangan petani memang masih terbatas. Sebagian petani berupaya memenuhi kebutuhan air dengan memanfaatkan jaringan PDAM, meski pasokannya tidak selalu tersedia secara lancar.

Pemerintah juga mendorong petani menyiapkan tempat penampungan air sebagai langkah antisipasi. Bagi petani yang memiliki kemampuan, pembelian tangki air juga menjadi salah satu pilihan untuk menyimpan cadangan air.

“Selain itu mereka membuat tampungan air. Kalau memang serius, malah ada yang membeli tangki,” jelasnya.

Rismiyadi menambahkan, pemerintah terus mengembangkan berbagai teknologi yang lebih hemat air untuk membantu sektor pertanian bertahan menghadapi kondisi kekeringan.

Meski status darurat kekeringan masih diperpanjang, petani mulai melakukan persiapan untuk musim tanam berikutnya. Salah satunya dengan mengolah bahan organik menjadi pupuk kompos sehingga ketika hujan turun, lahan sudah lebih siap digunakan kembali.

 

Editor : Bahana.
Pertanian musim tanam petani gunungkidul kekeringan gunungkidul pupuk kompos