Ketika kebutuhan internet semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari, Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Gari, Kapanewon Wonosari, melihatnya sebagai peluang usaha. Dari sana lahir Desa Gari Akses Internet atau Deganet, unit usaha yang bergerak menyediakan layanan internet bagi masyarakat.
Gagasan tersebut muncul pada 2020 dan mulai dieksekusi setahun kemudian. Direktur BUMKal Gari, Septian Nurmansyah mengatakan, usaha itu dibangun dengan satu tujuan, yakni membuat aset dan usaha desa bisa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sebelum memilih internet, pengelola sempat mempertimbangkan usaha sistem penyediaan air minum desa (Spamdes). Namun, kebutuhan biaya operasional yang cukup besar membuat rencana tersebut tidak dilanjutkan.
Baca Juga: Bazar Buku Festival Literasi Gunungkidul, Ribuan Buku Dibanderol Mulai Rp 5.000
BUMKal kemudian mencari alternatif usaha yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Kami melihat kondisi kebutuhan masyarakat terkait dengan internet,” ujar Septian.
Bukan perkara mudah memulai usaha tersebut. BUMKal belum memiliki modal yang cukup untuk membangun jaringan. Pada tahap awal, pengelola menggandeng pihak ketiga dan bekerja sama dengan pemodal.
Septian mengatakan, saat itu Deganet belum memiliki portofolio yang bisa dijadikan modal untuk meyakinkan masyarakat. Karena itu, pengelola tidak langsung memasang target menjangkau seluruh warga. “Awalnya hanya menargetkan sekitar 50 sampai 60 persen dari total populasi masyarakat Gari,” tuturnya.
Baca Juga: 9.216 KPM di Kabupaten Bantul Terindikasi Judol, Pengajuan Sanggah Tak Sampai Separo
Seiring waktu, pengelolaan Deganet mulai dilakukan secara mandiri. Usaha yang awalnya membutuhkan dukungan pihak lain itu kini mampu berjalan tanpa sokongan dana desa. Saat ini, terdapat enam orang yang mengoperasikan unit usaha tersebut. Deganet juga telah memberikan pemasukan bagi para pengelolanya.
Layanan internet Deganet ditawarkan dengan tarif yang disesuaikan dengan paket pelanggan, yakni berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per bulan untuk setiap kepala keluarga. Sementara pemasangan jaringan awal diberikan secara gratis.
Hingga kini, sekitar 500 KK telah menggunakan layanan Deganet. Jumlah tersebut menunjukkan usaha yang awalnya dibangun dari keterbatasan modal telah memiliki basis pelanggan di tengah persaingan penyedia internet.
Baca Juga: Dituduh Pungli ke Pelaku Usaha Food Truck, Pengelola Parkir Alkid Sebut Kompensasi “Ngeblok” Parkir
Septian mengatakan, tarif murah bukan satu-satunya yang menjadi perhatian. Pengelola juga berusaha menjaga kualitas layanan agar pelanggan mendapatkan akses internet yang nyaman. “Usaha desa itu komitmen yang konsisten, meyakinkan kepada masyarakat yang awalnya sulit karena berhadapan dengan banyak orang, mulai dari modal, keuntungan hingga ide,” ungkapnya.
Ia menilai usaha yang dibangun dan dikelola untuk kepentingan desa masih relatif jarang dibandingkan usaha yang dikembangkan secara perseorangan. Ke depan, Septian berharap Deganet dapat terus bertahan dan memperluas jangkauan layanan.
Bagi BUMKal Gari, keberlanjutan usaha menjadi bagian penting agar manfaatnya semakin banyak dirasakan masyarakat sekaligus membuka peluang bagi desa lain untuk mengembangkan usaha berdasarkan kebutuhan warganya.(cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo