GUNUNGKIDUL - Perpustakaan di Gunungkidul tak lagi didorong sekadar menjadi tempat membaca dan mencari bahan bacaan. Melalui Festival Literasi Gunungkidul 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Gunungkidul menjadikan perpustakaan sebagai ruang bagi masyarakat untuk menghasilkan karya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Sebanyak 16 perpustakaan kalurahan ikut ambil bagian dalam festival yang berlangsung selama lima hari, mulai Rabu (16/9) hingga Minggu (20/9). Mereka tidak hanya hadir sebagai perwakilan perpustakaan, tetapi turut membawa karya dan berbagai aktivitas yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Selain itu, 11 mitra menempati stan untuk memamerkan karya serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Konsep tersebut membuat festival tidak hanya berisi kegiatan membaca atau bazar buku. Tetapi juga mempertemukan aktivitas literasi dengan kreativitas dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Warga Sriharjo Imogiri Krisis Air Bersih, Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman Bantu 20 Tangki
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Gunungkidul Oneng Windu Wardhana mengatakan festival tersebut merupakan puncak pelayanan perpustakaan yang dilakukan sepanjang tahun di berbagai wilayah Gunungkidul. “Literasi bukan hanya soal membaca saja, tetapi juga bagaimana mengekspresikannya melalui karya,” kata Windu Jumat (18/9).
Menurut dia, berbagai kegiatan dalam festival menjadi bagian dari upaya memperluas pemaknaan literasi di tengah masyarakat. Selain bazar buku, pengunjung dapat melihat produk UMKM, karya perpustakaan kalurahan, hingga penampilan seniman lokal.
Ketua Tim Festival Literasi Gunungkidul 2026 Wahyuni mengatakan, perpustakaan memiliki fungsi yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Perpustakaan diharapkan dapat menjadi ruang yang mendorong masyarakat untuk berkembang dan berdaya, bukan hanya tempat mendapatkan informasi.
Baca Juga: Soroti Lini Belakang, Pelatih PSS Pieter Huistra Buka Peluang Rotasi Kipernya
Keterlibatan perpustakaan kalurahan dalam festival tersebut sekaligus menunjukkan aktivitas literasi yang berkembang di tingkat masyarakat. Karya dan kegiatan yang dibawa masing-masing perpustakaan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Wahyuni berharap kegiatan literasi dapat dikemas dengan cara yang lebih menarik dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi ruang untuk membaca, tetapi juga tempat masyarakat menemukan gagasan, menghasilkan karya, dan mengembangkan potensi yang dimiliki. “Harapannya literasi dapat dikemas menjadi wadah yang menarik sehingga dapat memberikan peningkatan literasi di Gunungkidul,” tandasnya. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita