GUNUNGKIDUL - Melimpahnya ikan lisong di Pantai Baron, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, turut meningkatkan aktivitas jual beli ikan hasil tangkapan nelayan.
Warga berdatangan untuk mendapatkan ikan langsung dari nelayan dengan harga yang relatif terjangkau.
Salah satu pembeli Ahmad Faizin mengatakan, mengetahui banyaknya ikan lisong dari media sosial.
Baca Juga: Menjelang Purna Tugas Sekda, Pemkab Kulon Progo Matangkan Tiga Mekanisme Pengisian Jabatan
“Tau dari media sosial kalau lisong sedang banyak, makanya langsung ke sini. Katanya kalau langsung ke nelayan murah,” katanya.
Ia membeli ikan lisong senilai Rp 50 ribu untuk disimpan sebagai persediaan di rumah.
Menurutnya, ikan yang dibeli langsung dari nelayan masih segar dengan harga lebih murah.
“Kalau langsung dari nelayan kayak gini murah dan segar karena hasil tangkapan,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya aktivitas jual beli ikan tersebut, konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul masih menjadi perhatian.
Baca Juga: Prediksi Real Betis vs Real Madrid, Los Blancos Incar Kemenangan di Cartuja
Kepala Bidang Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Noor Ichsan, mengatakan konsumsi ikan masyarakat masih berada di bawah rata-rata nasional maupun DIY.
“Saat ini angka konsumsi ikan di Gunungkidul baru 32,26 kilogram per kapita per tahun. Kita masih jauh dari angka nasional 59, kalau DIY 36,” katanya saat ditemui, Jumat (4/9/2026).
Untuk mendorong peningkatan konsumsi ikan, Dislautkan Gunungkidul berupaya memperluas pemanfaatan produk perikanan, salah satunya melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pihaknya telah berkoordinasi dengan korwil SPPG dan Yayasan Dharma Desa yang menaungi sejumlah SPPG di wilayah pantai selatan.
Baca Juga: Sleman Kite Festival 2026 Digelar 27 September, Angkat Budaya dan Kepedulian Lingkungan
Namun, jumlah pengolah maupun pengusaha ikan yang telah bekerja sama dengan SPPG masih terbatas.
Selain itu, pengembangan budidaya ikan juga disiapkan melalui program Mini RAS (Recirculating Aquaculture System).
Teknologi tersebut ditujukan untuk budidaya ikan dalam skala kecil dengan sistem resirkulasi air.
Upaya pengembangan budidaya dinilai penting karena hasil tangkapan laut tidak selalu tersedia sepanjang waktu.
Kondisi cuaca dan perubahan musim membuat hasil tangkapan nelayan sulit diprediksi.
Baca Juga: Ngopi Hemat, Cukup Rp10 Ribu di Alfamart Setiap Senin, Rabu, Jumat
“Karena pemanasan global mungkin ya, jadi musim ikan tidak bisa kita tebak, hasil tangkapan nelayan,” ujar Noor.
Menurutnya, Pantai Sadeng saat ini menjadi salah satu wilayah yang relatif rutin menghasilkan tangkapan.
Sementara hasil tangkapan di sejumlah pantai lainnya masih bergantung pada kondisi cuaca.(cr1)
Editor : Meitika Candra Lantiva