GUNUNGKIDUL - Penyaluran bantuan air bersih di Gunungkidul terus berjalan di tengah stok dan anggaran yang mulai menipis. Hingga 31 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul telah mendistribusikan 648 tangki air bersih dengan total 3,64 juta liter.
Dari alokasi awal 800 tangki, masih tersisa 152 tangki. Namun, persediaan tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama seiring meningkatnya permintaan air bersih dari wilayah terdampak kekeringan.
Ketua Tim Kerja Logistik dan Peralatan Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Arif Prasetyo mengatakan, penyaluran pada Agustus menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. “Yang jelas di Agustus lebih banyak,” kata Arif, Kamis (3/6).
Baca Juga: Fenomena Mengantre demi Bimbel, Disdikpora DIY Sambut Positif: Ingatkan Ortu Jangan Tekan Anak
Tepus menjadi wilayah dengan distribusi terbanyak, yakni 252 tangki atau 1,396 juta liter. Berikutnya Rongkop 136 tangki atau 804 ribu liter dan Saptosari 68 tangki atau 388 ribu liter.
Sementara itu, distribusi di Panggang mencapai 60 tangki, Ngawen 40 tangki, Semin 40 tangki, Wonosari 16 tangki, Girisubo 12 tangki, serta Ponjong, Purwosari dan Nglipar masing-masing delapan tangki.
Persoalan tidak hanya menyangkut sisa alokasi air. Anggaran penanganan kekeringan di sejumlah kapanewon juga mulai habis.
Baca Juga: Jurnalis dari Pers Mahasiswa Alami Bocor Kepala saat Meliput Demo di Simpang Empat Gramedia Jogja
“Anggaran kapanewon itu ada yang sudah habis seperti di Rongkop, Pathuk, Panggang, Ponjong itu September ini habis,” ujarnya.
Di tingkat BPBD, kemampuan pembiayaan distribusi juga semakin terbatas. Dengan asumsi kebutuhan rata-rata 16 tangki per hari, anggaran yang tersedia sebelum tambahan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) diperkirakan hanya mampu menopang distribusi sekitar enam hari.
“Kalau anggaran kami sebelum pengajuan BTT ini sebenarnya tinggal enam hari lagi habis. Asumsinya kami 16 tangki per hari, maka dengan asumsi itu kita perkirakan hanya sampai enam hari,” katanya.
Baca Juga: Usai Melepas Atlet Popda Kebumen dengan Bus Engkel, Bupati Lilis Minta Maaf
Karena itu, BPBD mengajukan tambahan anggaran melalui BTT. Pengajuan tersebut kini telah berada di tahap akhir sebelum dapat dicairkan dan digunakan untuk memperkuat distribusi ke wilayah yang membutuhkan.
BTT tersebut akan digunakan melalui dua skema. Selain mengoperasikan armada milik BPBD, penanganan juga akan melibatkan penyedia tangki air swasta. Skema kedua ini disiapkan untuk memperluas jangkauan distribusi, terutama ke kapanewon yang mulai kehabisan anggaran.
Dari 18 kapanewon di Gunungkidul, armada pihak ketiga nantinya diarahkan ke 17 kapanewon. Playen tidak masuk prioritas karena kondisi ketersediaan airnya dinilai masih relatif aman.
Baca Juga: Tercatat Punya 9 Meteran Listrik, Warga Sentolo Dicoret dari Penerima Bansos PKH
“Pengajuan tinggal menunggu tanda tangan, nanti kami cairkan dan langsung eksekusi terutama ke kapanewon yang membutuhkan, terlebih yang anggarannya sudah habis,” ujar Arif.
Tepus menjadi wilayah dengan kebutuhan penanganan paling besar. Sementara itu, BPBD memastikan distribusi tetap berjalan sembari menunggu proses pencairan tambahan anggaran.
Bantuan air tersebut diberikan secara berkala untuk memenuhi bak-bak penampungan umum. Arif menegaskan, pola dropping yang dilakukan BPBD memang ditujukan sebagai bantuan sementara bagi masyarakat terdampak, bukan untuk menggantikan seluruh kebutuhan air rumah tangga.
Baca Juga: Dalam Sehari, Damkarmat Kulon Progo Tangani Tiga Kebakaran Lahan Seluas Satu Hektare
“Kami penuhi bak air umum secara periodik. Sifat kita tidak bisa membantu meng-cover keseluruhan kebutuhan masyarakat, tapi membantu meringankan,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan status siaga yang sebelumnya berlaku hingga 31 Agustus 2026 akan diperpanjang hingga akhir November.
“Status siaga darurat bencana hidrometeorologi diperpanjang hingga akhir November,” kata Purwono.(cr1)
Editor : Heru Pratomo