Dari Pataka Keraton hingga Jadi Identitas Gunungkidul, Ini Makna Podhang Ngisep Sari

Dzika Fajar • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:40 WIB
PODHANG NGISEP SARI: Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari terpasang di sisi jalan Gunungkidul menjelang peringatan HUT ke-81 RI. (Dzika Fajar/Radar Jogja)
PODHANG NGISEP SARI: Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari terpasang di sisi jalan Gunungkidul menjelang peringatan HUT ke-81 RI. (Dzika Fajar/Radar Jogja)

GUNUNGKIDUL - Setiap memasuki bulan Agustus, warna kuning dan merah mulai menghiasi berbagai sudut Kabupaten Gunungkidul. Di depan rumah, sepanjang jalan hingga lingkungan tingkat RT, umbul-umbul Podhang Ngisep Sari dipasang berdampingan dengan bendera Merah Putih.

Bagi sebagian masyarakat, keberadaannya mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Padahal, umbul-umbul tersebut memiliki perjalanan panjang hingga akhirnya menjadi salah satu simbol yang lekat dengan Gunungkidul.

Baca Juga: Pemukulan terhadap Pemain Divisi Super Liga 2026, Askab PSSI Bantul Serahkan ke Pihak Berwajib

Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul Sukasno mengatakan, Podhang Ngisep Sari pada awalnya merupakan pataka yang ditentukan Keraton untuk masing-masing kabupaten dan kota, sebelum kemudian digunakan dalam bentuk umbul-umbul seperti yang dikenal masyarakat saat ini.

 “Kemudian dimodifikasi menjadi umbul-umbul,” kata Sukasno.

Upaya memperkenalkan simbol tersebut kepada masyarakat Gunungkidul dilakukan Dinas Kebudayaan pada 2018. Saat itu, sosialisasi tidak hanya menyasar Podhang Ngisep Sari, tetapi juga Gapura Lar Badak, yang diperkenalkan sebagai ciri khas untuk menandai batas wilayah atau pintu masuk desa.

Baca Juga: Debit Sumber Air Menyusut di Puncak Kemarau, Armada Tangki Kini Hanya Angkut 7–8 Tangki Sehari

Dari dua simbol tersebut, Podhang Ngisep Sari justru lebih mudah diterima masyarakat. Salah satu faktor yang membuatnya cepat menyebar adalah bentuknya yang sederhana sehingga relatif mudah diakses.

Sukasno mengatakan, saat sosialisasi berlangsung, Dinas Kebudayaan juga sempat membagikan umbul-umbul kepada masing-masing kepala keluarga, meski jumlahnya masih terbatas.

Seiring waktu, masyarakat tidak lagi bergantung pada pembagian tersebut. Podhang Ngisep Sari kini telah diproduksi secara komersial dan dapat dibeli di berbagai toko maupun percetakan.

Baca Juga: Hanif Sjahbandi Tidak Dikenalkan saat Launching Tim PSS Sleman, Masih Harus Pemulihan dari Cedera

Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Gunungkidul Asih Wulandari mengatakan, keberadaan umbul-umbul tersebut kini semakin meluas hingga tingkat lingkungan.

“Saat ini sudah menjadi inventaris, hampir setiap RT memiliki umbul-umbul,” ujarnya.

Penggunaannya pun tidak hanya muncul saat Agustusan. Podhang Ngisep Sari juga kerap dipasang dalam berbagai kegiatan daerah, seperti hari jadi, rasulan maupun ketika ada kunjungan pejabat.

Baca Juga: Buntut Polemik Jersey RMB, Manajemen PSIM Jogja Evaluasi dan Belum Tentukan Apparel Resmi

Namun, pemasangan paling serentak terlihat menjelang peringatan kemerdekaan. Hampir setiap lingkungan memasangnya secara bersamaan sehingga warna kuning-merah menjadi salah satu pemandangan khas Gunungkidul selama bulan Agustus.

Bukan Sekadar Warna Kuning dan Merah

Di balik bentuknya yang sederhana, nama Podhang Ngisep Sari memiliki makna yang menggambarkan hubungan antara makhluk hidup dan lingkungan.

Secara harfiah, Podhang Ngisep Sari menggambarkan burung kepodhang yang sedang mengisap sari bunga. Podhang merujuk pada burung kepodhang, sedangkan ngisep berarti mengisap atau menyerap. Sementara sari merujuk pada bagian utama atau sesuatu yang bernilai dari bunga.

Baca Juga: Polisi Kembangkan Penangkapan dari Cungkuk ke Nitipuran, 295 Butir Pil Y Disita, Dua Orang Ditangkap

Gambaran tersebut kemudian dimaknai lebih luas sebagai hubungan yang saling memberikan manfaat. Burung memperoleh sari dari bunga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara keberadaan burung juga berperan dalam proses penyerbukan.

Dengan demikian, simbol tersebut tidak hanya menggambarkan aktivitas seekor burung, tetapi juga menyiratkan hubungan timbal balik antara kehidupan dan lingkungan. Manfaat yang diperoleh dari alam idealnya berjalan bersama dengan keberlanjutan lingkungan yang menopangnya.

Makna itu kemudian diterjemahkan dalam identitas visual yang sederhana: warna kuning dan merah.

Baca Juga: Nelayan Hilang Terhempas Ombak Saat Kejar Kapal Lepas di Perairan Wohkudu

Asih mengatakan setiap kabupaten dan kota memiliki pataka masing-masing. Untuk Gunungkidul, identitas tersebut diwujudkan melalui Podhang Ngisep Sari dengan warna kuning dan merah.

“Kalau di Gunungkidul Podhang Ngisep Sari warnanya kuning merah,” ujarnya.

Umbul-umbul tersebut memiliki ukuran sekitar 5 meter dengan lebar 75 sentimeter, dengan komposisi warna kuning lebih dominan dibandingkan merah, yakni 60 persen kuning dan 40 persen merah.

Pakem tersebut menjadi penting karena dalam praktiknya masih ditemukan umbul-umbul yang dibuat dengan komposisi warna berbeda.

Baca Juga: Pemkab Sleman Tanggung Seluruh Biaya Pengobatan Korban, Janji Langsung Perbaiki Tembok Sekolah yang 

Kini Dibeli dan Dipasang Masyarakat

Perjalanan Podhang Ngisep Sari menunjukkan bagaimana sebuah simbol yang diperkenalkan melalui pemerintah daerah perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Jika dahulu Dinas Kebudayaan membagikannya dalam jumlah terbatas untuk memperkenalkan simbol tersebut, kini masyarakat dapat memperolehnya sendiri.

Umbul-umbul itu telah tersedia di pasaran dan diproduksi oleh percetakan. Pengadaannya pun tidak lagi terpusat, tetapi dilakukan secara mandiri oleh masyarakat maupun lingkungan.

Baca Juga: Damkarmat Jogja Catat 600 Aduan Non-Kebakaran Masuk, Kini Selektif Tangani di Luar Tupoksi

Kondisi tersebut membuat Podhang Ngisep Sari semakin mudah ditemukan setiap kali ada momentum yang berkaitan dengan identitas dan tradisi daerah.

Dan pada Agustus ini, keberadaannya kembali terlihat hampir di setiap lingkungan. Di antara Merah Putih yang berkibar, kain kuning-merah itu menjadi penanda lain bahwa sebuah simbol yang dahulu berupa pataka kini telah tumbuh menjadi bagian dari wajah Gunungkidul. (cr1)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Podhang Ngisep Sari pataka keraton identitas gunungkidul makna