GUNUNGKIDUL - Sebanyak 83 tukik berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan dari sarang yang berada di jalur utama wisatawan Pantai Wediombo, Jepitu, Girisubo, Senin (3/8). Habitat penyu yang bersinggungan langsung dengan aktivitas wisata membuat pemerintah daerah mulai mengkaji penerapan zonasi untuk melindungi kawasan konservasi.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menilai, temuan sarang penyu untuk tahun kedua berturut-turut menjadi kabar baik bagi upaya konservasi. Namun, meningkatnya aktivitas wisata di Pantai Wediombo juga menjadi tantangan karena habitat penyu berada di kawasan yang sama dengan jalur pengunjung.
Menurutnya, pengelolaan kawasan pantai harus memperhatikan kebutuhan konservasi. Termasuk mengendalikan cahaya dan kebisingan yang dapat mengganggu tukik saat menuju laut.
“Tukik ini akan takut jika tempat konservasinya ada sinar lampu atau keributan. Mereka butuh pantai yang tenang sesuai habitatnya,” ujarnya.
Pemkab Gunungkidul pun membuka opsi pengaturan zonasi pantai dengan menyediakan ruang khusus untuk konservasi. Langkah tersebut dinilai penting agar habitat penyu tetap terlindungi di tengah berkembangnya Pantai Wediombo sebagai destinasi wisata.
Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I Sunu Handoko menyebutkan, keberadaan induk penyu telah dipantau sekitar satu setengah bulan sebelumnya saat mendarat di Pantai Wediombo untuk bertelur. Tim telah memperkirakan waktu penetasan, namun kemunculan tukik baru diketahui beberapa hari setelah perkiraan tersebut.
“Prediksi menetasnya sudah lewat beberapa hari, tapi ditemukan satu ekor tukik yang sudah muncul di seputaran pantai,” ujar Sunu.
Setelah menemukan sarang, petugas mengevakuasi telur dan tukik karena lokasinya berada di jalur utama wisatawan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari risiko tukik terinjak atau terganggu saat bergerak menuju laut.
Dari 108 telur yang ditemukan, sebanyak 83 berhasil menetas. Sedangkan 25 lainnya gagal karena membusuk di dalam pasir.
Puluhan tukik kemudian dilepasliarkan dengan cara diletakkan di atas pasir agar bergerak sendiri menuju laut. Metode tersebut memberi kesempatan tukik mengenali pantai dan suara ombak sebelum memasuki habitat alaminya. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita