GUNUNGKIDUL – Konflik berkepanjangan antara petani dan kawanan monyet ekor panjang di Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Setelah bertahun-tahun merusak tanaman di lahan pertanian, kini satwa liar tersebut bahkan menyasar hasil panen yang telah dipetik. Lebih dari lima karung singkong milik seorang petani dilaporkan raib setelah diserbu kawanan monyet saat dijemur.
Peristiwa itu dialami Wakiyem petani asal Purwodadi. Singkong hasil panennya dijemur seperti biasa di sekitar rumah. Namun, saat ditinggalkan sekitar satu jam, kawanan monyet datang dan membawa sebagian besar hasil panennya.
Baca Juga: Harga Bawang Merah di Lahan Pasir Pansela Bantul Menurun, DKPP Sebut Panen Raya Berbarangen
"Kemarin hasil ketela yang telah saya panen dan saya jemur tak tinggal sekitar satu jam kemudian hilang tiba-tiba," kata Wakiyem.
Kehilangan tersebut bukan hanya membuatnya merugi, tetapi juga mengubah kebiasaan sehari-hari. Kini, setiap kali menjemur hasil panen, ia tidak lagi berani meninggalkannya tanpa pengawasan karena khawatir kawanan monyet kembali datang. "Ya gini, harus ditunggu. Kalau tidak nanti akan hilang lagi," ujarnya.
Bagi warga Purwodadi, kejadian itu bukan lagi peristiwa yang asing. Serangan monyet ekor panjang disebut semakin sering terjadi dan tidak hanya merusak tanaman yang masih berada di lahan, tetapi juga mengambil hasil panen yang telah dipetik.
Akibatnya, petani tidak hanya kehilangan hasil produksi, tetapi juga harus menghabiskan waktu untuk menjaga panen yang seharusnya sudah aman.
Waluyo, warga yang turut menyaksikan kejadian tersebut, mengatakan kawanan monyet kini semakin berani mendekati manusia. Kehadiran warga di sekitar lokasi tidak lagi cukup untuk menghalau mereka. "Walaupun ada manusia dia tidak takut," katanya.
Menurutnya, kawanan monyet biasanya datang dalam kelompok yang dipimpin seekor pejantan dengan jumlah mencapai puluhan ekor. Warga kerap kewalahan mengusir karena setelah satu kelompok pergi, kelompok lainnya dapat kembali datang dalam waktu singkat.
Baca Juga: 15 Perusahaan Inggris Bidik Peluang Proyek Kereta Api di Indonesia
Ia juga menilai program pemberian pakan yang selama ini dijalankan pemerintah belum sepenuhnya efektif mengurangi serangan monyet. Menurutnya, pakan seharusnya ditempatkan di dalam kawasan hutan sebagai habitat satwa, bukan di sekitar area pertanian yang justru memudahkan monyet berpindah ke lahan warga.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyatakan program pemberian pakan monyet yang berlangsung sejak Maret hingga Desember 2026 hanya merupakan langkah jangka pendek untuk mengurangi gangguan terhadap lahan pertanian.
Pemerintah kini mengkaji pengendalian populasi melalui vasektomi sebagai strategi jangka menengah, sementara dalam jangka panjang disiapkan pemulihan habitat melalui penanaman vegetasi yang menjadi sumber pakan alami monyet. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo